Senin, 13 APRIL 2026 • 21:05 WIB

Pelestarian Ikan Belida Berbuah Manis, Ekonomi Warga Ikut Tumbuh

Author

Ilustrasi ikan. (Istimewa)

INDOZONE.ID - Sungai Musi tidak hanya menjadi jantung ekosistem Sumatera Selatan, tetapi juga tumpuan hidup bagi masyarakatnya. 

Melalui skema tanggung jawab sosial yang terukur, sebuah program konservasi bertajuk 'Belida Musi Lestari' diluncurkan untuk menjawab tantangan degradasi lingkungan. 

Sejak dua tahun terakhir, gerakan ini konsisten melakukan upaya penyelamatan spesies lokal sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif bagi warga setempat.

Program ini merupakan respons atas ancaman kepunahan ikan endemik Belida akibat maraknya praktik penangkapan Ikan Belida yang tak terkendali dan memicu degradasi ekosistem serius di sekitar sungai.

Baca juga: Realisasi Investasi Triwulan I 2026 Diproyeksi Rp497 Triliun, Serap Ratusan Ribu Tenaga Kerja

"Sungai Musi bukan hanya ikon Provinsi Sumatera Selatan, tapi juga menjadi urat nadi kehidupan, jejak sejarah dan identitas budaya masyarakat disana. Termasuk Ikan Belida yang sudah ratusan tahun menjadi bagian jati diri warga Sumsel, sehingga dijadikan bakan baku utama kuliner pempek yang otentik,” ujar Roberth.

Kerusakan ekosistem membuat masyarakat bantaran sungai, terutama nelayan dan pembudidaya, terjebak dalam kerentanan ekonomi. 

Nilai Tukar Pembudidaya Ikan (NTPi) cukup memprihatinkan, hanya 95,53. Kondisi ini tergambar jelas di Kampung Perikanan Sungai Gerong yang sempat mengalami fenomena “gulung waring”, yakni kegagalan usaha perikanan akibat tidak mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan.

Roberth menegaskan bahwa program Belida Musi Lestari dijalankan melalui pendekatan yang holistik, yakni model ekosistem perikanan berdikari. 

Upaya tersebut mencakup lima pilar, yaitu berdikari benih untuk memastikan ketersediaan benih ikan secara mandiri. Lalu berdikari proses yang menekankan pada tata kelola budidaya yang efisien. 

Ketiga berdikari pakan, yang mengimplementasikan inovasi pengolahan pakan mandiri untuk menekan biaya produksi.

Hilirisasi sektor perikanan menjadi produk bernilai tambah serta transfer pengetahuan menjadi dua pilar penutup dalam strategi ini. 

Fokus pada edukasi dipandang sebagai kunci utama untuk menjaga dampak positif dalam jangka panjang. 

Secara keseluruhan, penerapan metode ini berhasil menciptakan standar baru dalam pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan dan berbasis komunitas.

"Program ini tidak memberikan bantuan instan yang bersifat sementara, melainkan membangun sistem yang mandiri dari hulu hingga ke hilir. Hasilnya pun nyata, kini telah terbentuk 30 sentra perikanan terintegrasi,” jelas Roberth.

Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari program Belida Musi Lestari perlahan terlihat. Secara inklusif, program ini melibatkan 307 jiwa dari 8 kategori kelompok rentan. 

Secara finansial, program ini menghasilkan lompatan yang sangat besar, dengan hasil penjualan ikan yang meningkat tajam hingga 809% atau sekitar Rp750-an juta.

Dari sisi lingkungan, program ini berhasil menjawab tantangan limbah dengan mengolah 36 ton sampah makanan menjadi pakan ikan atau pellet food waste. 

"Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan simbol pulihnya daya beli dan kesejahteraan keluarga nelayan di sepanjang bantaran Sungai Musi,” tutur Roberth.

Dari sisi pelestarian, program Belida Musi Lestari berhasil mengkonservasi 4 jenis Ikan Belida khas Sumatera Selatan yang hampir punah. 

Sementara itu, dari sisi keberlanjutan, program ini juga melahirkan Pusat Pembelajaran Masyarakat yang dilengkapi dengan 2 model pembelajaran dan 18 kelas edukasi perikanan. 

Roberth menambahkan, deretan keberhasilan itu lantas mendapatkan apresiasi dari para pemangku kepentingan. 

Hal ini tercermin dari skor Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang mencapai 98,26% (Sangat Puas) dan survei Exit Readiness & Sustainability Score menunjukkan angka 81,77 (Very High Readiness), yang menandakan bahwa masyarakat telah siap mengelola program ini secara mandiri di masa depan.

Baca juga: LPG 3 Kg Diawasi Ketat, Pertamina dan ESDM Turun Lapangan

“Efektivitas investasi sosial program ini juga terukur melalui nilai SROI (Social Return on Investment) sebesar 1,76. ini artinya, setiap implementasi program menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang berlipat bagi masyarakat,” tandas Roberth.

Program Belida Musi Lestari menjadi bukti komitmen Pertamina Patra Niaga pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang dicanangkan PBB. 

Menurut Roberth, implementasi program ini sesuai dengan beberapa poin SDGs, diantaranya kesetaraan gender, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, kota dan pemukiman berkelanjutan hingga penanganan perubahan iklim dan ekosistem darat. 

“Dengan menyatukan aspek konservasi Ikan Belida dan pemberdayaan ekonomi berbasis kemandirian, program ini tidak hanya menyelamatkan ekosistem Sungai Musi, tetapi juga membangun benteng ketahanan ekonomi masyarakat lokal,” tutup Roberth.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU