Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 10:40 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal IV 2025 Capai 5,39 Persen, Tertinggi di G20

Author

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

INDOZONE.ID - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal keempat 2025 mencapai 5,39 persen. Angka tersebut disebut menjadi yang tertinggi dibandingkan negara-negara anggota G20.

“Ini merupakan yang tertinggi di antara negara-negara G20. Kemudian pertumbuhan tahunan sebesar 5,11 persen,” kata Airlangga usai rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Kamis (12/2/2026).

Secara tahunan (year on year), pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,11 persen. Pemerintah menilai capaian tersebut menunjukkan kinerja ekonomi yang tetap solid.

Dari sektor riil, aktivitas manufaktur masih berada dalam fase ekspansi dengan indeks 52,6. Sementara itu, tingkat keyakinan konsumen pada Januari 2026 juga meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.

Baca juga: Kepala Bappenas Tegaskan Pertumbuhan Ekonomi Tinggi Bukan Hal Mustahil untuk Capai Indonesia Emas

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tercatat naik menjadi 127 pada Januari 2026, dari posisi 123,5 pada bulan sebelumnya.

Kinerja konsumsi domestik juga menunjukkan perbaikan. Penjualan riil tumbuh 7,9 persen secara tahunan, meningkat signifikan dibandingkan Desember 2025 yang mencatat pertumbuhan 3,5 persen.

Di sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2025 mencatat surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS. Surplus tersebut memperpanjang tren positif menjadi 68 bulan berturut-turut.

Baca juga: Menkeu Tunda Penerapan Pajak Marketplace, Tunggu Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen

Realisasi investasi melalui Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat mencapai Rp1.931,2 triliun.

“Kemudian dari segi cadangan devisa tetap tinggi 154,6 dan pertumbuhan kredit tinggi 9,69,” ujar Airlangga.

Ia juga menyampaikan bahwa peringkat kredit Indonesia dari berbagai lembaga pemeringkat internasional masih berada pada level investment grade. Namun demikian, pemerintah mencermati outlook negatif dari Moody’s sebagai hal yang perlu diantisipasi melalui langkah kebijakan yang tepat.

“Nah ini tentu perlu diperhatikan terkait dengan penjelasan yang diperlukan utamanya tentang penerimaan negara yang juga berpotensi meningkat dan juga terkait dengan rencana dari pada Danantara,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU