Sabtu, 24 JANUARI 2026 • 15:52 WIB

Dorong Swasembada Pangan, Kemenperin Perkuat Industri Pati Ubi Kayu

Author

Kemenperin mempertemukan produsen dan pengguna pati ubi kayu lewat business matching untuk perkuat industri nasional dan swasembada pangan. (Dok. Humas Kemenperin)

INDOZONE.ID - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu untuk memperkuat industri dalam negeri dan mendukung swasembada pangan.

Forum ini mempertemukan produsen dan pengguna pati ubi kayu agar rantai pasok lebih efisien, impor bisa ditekan, dan nilai tambah industri nasional meningkat.

Kemenperin bersama Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, 22 Januari 2026.

Inisiatif ini menjadi bagian dari pelaksanaan Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang merujuk pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Salah satu poin kuncinya adalah penguatan backward–forward linkage agar rantai nilai industri lebih terintegrasi.

Lewat penguatan keterkaitan hulu–hilir, Kemenperin ingin memastikan komoditas strategis seperti pati ubi kayu tidak hanya berhenti di bahan mentah, tetapi terus naik kelas lewat industrialisasi.

Baca juga: Cetak Talenta Digital Industri, Kemenperin Gandeng China

Utilisasi Masih Rendah

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti potensi besar industri pati ubi kayu yang belum dimanfaatkan secara optimal.

“Saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan telah menguasai pasar dalam negeri mencapai 79 persen. Kami optimis industri pati ubi kayu dapat ditingkatkan kembali,” ujar Agus Gumiwang dalam pernyataannya dikutip Indozone, Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, kapasitas produksi yang belum maksimal membuka ruang besar untuk ekspansi pasar, baik di dalam maupun luar negeri.

Komoditas Strategis untuk Pangan dan Non-Pangan

Pati ubi kayu punya peran luas di berbagai sektor. Di industri pangan, bahan ini digunakan untuk pemanis, bumbu, makanan ringan, hingga mie instan.

Di luar pangan, pati ubi kayu juga menjadi bahan baku industri kertas, bahan kimia, sampai ethanol.

Fleksibilitas inilah yang membuat komoditas ini dinilai strategis dan bernilai tambah tinggi.

Kinerja ekspor pati ubi kayu juga menunjukkan tren positif.

Nilai ekspor tercatat mencapai USD 18,7 juta pada November 2025, naik 58,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun tantangan tetap ada. Persaingan harga dan kualitas dengan produk impor masih menjadi hambatan utama bagi industri dalam negeri.

“Untuk menjawab hal itu, Kemenperin mendorong penguatan sinergi antara produsen pati ubi kayu dan industri pengguna, salah satunya melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas,” jelas Menperin.

Kemenperin Tekankan Diversifikasi Spesifikasi

Selain sinergi, Kemenperin juga mendorong produsen untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan industri pengguna.

Diversifikasi spesifikasi menjadi kunci agar produk lokal bisa benar-benar menggantikan impor.

Langkah ini sekaligus memperluas peluang pasar dan meningkatkan daya saing industri pati ubi kayu nasional.

Kegiatan Business Matching ini melibatkan 17 industri pati ubi kayu dari Lampung dan 51 calon buyer.

Pesertanya berasal dari sektor pangan dan non-pangan, mulai dari industri makanan hingga kimia dan energi.

Skema pertemuan dilakukan secara one-on-one dalam tiga sesi, agar pembahasan kebutuhan dan kerja sama bisa lebih fokus dan konkret.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika berharap kemitraan ini tidak berhenti di forum.

“Kami harap kemitraan antara industri produsen dan pengguna pati ubi kayu dapat terus terjalin hingga kemandirian industri dalam negeri dapat terus meningkat,” katanya.

Dukungan juga datang dari Pemerintah Provinsi Lampung yang menjadi salah satu sentra industri tapioka nasional.

Lampung Jadi Pusat Diversifikasi Tapioka

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan ambisi daerahnya untuk mendorong industri tapioka naik kelas.

“Kami ingin industri tapioka di Lampung tidak hanya pada produk konvensional, tetapi juga berkembang ke produk turunan bernilai tambah tinggi,” ungkapnya.

Ia berharap Business Matching ini melahirkan kemitraan jangka panjang yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Kemenperin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU