Rabu, 14 JANUARI 2026 • 17:40 WIB

Pemerintah Targetkan Setop Impor Pertamax pada 2027, Produksi Dalam Negeri Dikejar

Author

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)

INDOZONE.ID - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membuka peluang Indonesia menghentikan impor bensin dengan tingkat oktan RON 92 (Pertamax), RON 95 (Pertamax Green), dan RON 98 (Pertamax Turbo) mulai 2027, apabila kapasitas produksi dalam negeri telah mencukupi kebutuhan domestik.

“Kalau semuanya ini (RON 92, RON 95, dan RON 98) produknya sudah ada, itu berarti kita sudah tidak perlu impor lagi,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Menurut Bahlil, pemerintah kini tengah mendorong peningkatan kapasitas kilang dalam negeri agar mampu memproduksi ketiga jenis BBM tersebut. Targetnya, tambahan produksi RON 92, RON 95, dan RON 98 sudah bisa direalisasikan pada 2027, paling cepat pada semester kedua.

“Impor kita (Indonesia) RON 92, RON 95, dan RON 98, kami mau dorong agar produksinya sudah harus ada di 2027, kemungkinan di semester kedua,” ujarnya.

Baca juga: Harga BBM Turun Serentak per 1 Januari 2026, Pertamina hingga SPBU Swasta Lakukan Penyesuaian

Jika produksi dalam negeri sudah mencukupi, maka keran impor BBM akan ditutup. Dalam skema tersebut, badan usaha pengelola SPBU swasta seperti Shell, bp, dan Vivo akan diarahkan membeli BBM dari Pertamina.

“Jadi, silakan beli di Pertamina. Akan tetapi, selama kapasitas produksi kita masih kurang dibandingkan konsumsi, maka tetap kita sementara impor harus dilakukan,” kata Bahlil.

Untuk saat ini, SPBU swasta masih diberi kuota impor karena produksi Pertamina belum sepenuhnya memenuhi permintaan pasar. Namun, pemerintah tengah menghitung ulang rentang kuota yang akan diberikan.

“Untuk swasta, tetap kuota impornya kami berikan, tetapi kami lagi hitung rentangnya berapa,” jelasnya.

Baca juga: Distribusi BBM dan LPG di Lokasi Terdampak Bencana di Aceh Mulai Lancar, SPBU Diminta Buka 24 Jam

Upaya pengurangan impor ini sejalan dengan pengoperasian proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1/2026). Proyek tersebut diproyeksikan mampu memangkas impor bensin hingga 5,8 juta kiloliter (KL) per tahun.

Saat ini, kebutuhan bensin nasional tercatat sekitar 38,5 juta KL per tahun, sementara produksi dalam negeri baru mencapai sekitar 14,27 juta KL. Rinciannya, kebutuhan RON 90 mencapai 28,9 juta KL per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta KL, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu KL per tahun.

Melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan hingga 5,8 juta KL per tahun. 

Pemerintah berharap peningkatan kapasitas ini menjadi pijakan penting menuju kemandirian energi dan penghentian impor BBM bernilai oktan tinggi dalam beberapa tahun ke depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU