INDOZONE.ID - PT Pertamina (Persero) tengah memperluas kiprahnya dalam transisi energi dengan mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF), atau avtur ramah lingkungan berbahan dasar minyak jelantah. Tidak hanya untuk kebutuhan domestik, Pertamina juga menargetkan pasar ekspor untuk produk inovatif ini.
Komisaris Utama dan Independen Pertamina, Mochammad Iriawan, mengatakan SAF berbahan minyak jelantah yang diproduksi di Kilang Cilacap sudah menjadi pionir di Asia Tenggara.
“Kami akan komunikasikan (rencana ekspor) nanti, untuk bisa menjajaki ekspor. Kalau sudah melihat hasil daripada SAF kita, pasti negara lain akan melirik (SAF) kita,” ujarnya dalam acara Jejak Keberlanjutan Series di Cilacap, Jawa Tengah.
Meski belum merinci negara tujuan, Iriawan menekankan pentingnya harga yang kompetitif agar SAF Indonesia bisa bersaing di kawasan.
Baca juga: Ramah Lingkungan! Minyak Jelantah Jadi Tenaga Terbang Vietjet
“Tentunya harganya nanti harus bersaing dengan produk-produk yang lainnya. Yang jelas, di ASEAN ini kita yang pertama (mengolah minyak jelantah jadi avtur),” tambahnya.
VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menjelaskan produksi SAF saat ini berpusat di Kilang Cilacap dengan kapasitas sekitar 8.700 barel per hari.
Produk tersebut diutamakan untuk maskapai Pelita Air milik Pertamina, sekaligus diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan penerbangan internasional.
“Kami juga targetkan untuk ekspor. Selain itu, lokasi Cilacap dipilih karena dekat dengan bandara internasional seperti Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai, sehingga memudahkan distribusi,” ujar Fadjar.
Tak berhenti di Cilacap, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) juga menyiapkan ekspansi produksi ke Kilang Dumai dan Kilang Balongan.
Baca juga: Kenapa Minyak Jelantah Berbahaya Jika Dipakai Berulang Kali?
Direktur Utama KPI, Taufik Aditiyawarman, menyebut langkah ini akan memperkuat kapasitas produksi SAF dan mendukung percepatan transisi energi di sektor penerbangan.
Pertamina bahkan telah mencatat sejarah baru dengan penerbangan komersial perdana maskapai Pelita Air yang menggunakan PertaminaSAF pada rute Jakarta–Denpasar, 20 Agustus 2025 lalu.
“Penerbangan ini bukan sekadar perjalanan udara biasa, melainkan tanda transisi energi yang semakin nyata di Indonesia,” tutur Taufik.
Dengan keunggulan sebagai produsen pertama SAF berbahan minyak jelantah di Asia Tenggara, Indonesia berpeluang besar menjadi pemain penting di pasar avtur ramah lingkungan global.
Selain memperkuat kemandirian energi, inisiatif ini juga membuka potensi devisa baru melalui ekspor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA