INDOZONE.ID - PT Freeport Indonesia (PTFI) mengatakan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan pasar domestik, meskipun Amerika Serikat memberi tarif impor sebesar nol persen untuk konsentrat tembaga (copper concentrate) dan katoda tembaga (copper cathode).
"Prioritas utama perusahaan tetap pada pemenuhan kebutuhan industri dalam negeri," ucap VP Corporate Communications Freeport Indonesia Katri Krisnati, dikutip dari ANTARA, Senin.
Lebih lanjut, selain untuk pasar domestik, Katri juga memaparkan bahwa produk Freeport Indonesia saat ini dipasarkan di Asia, bukan Amerika Serikat.
Baca juga: AS Tetapkan Tarif Impor 19 Persen untuk Produk Indonesia, Ini Tanggapan Kadin
"Produk PT Freeport Indonesia (PTFI) saat ini dipasarkan di pasar domestik Indonesia dan Asia," ujarnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menyatakan bahwa Indonesia dan Amerika Serikat telah melakukan perundingan ulang terkait ketentuan tarif resiprokal sebesar 32 persen terhadap sejumlah produk Indonesia, dan saat ini masih dalam tahap penjajakan lima poin utama sebagai respons terhadap ketentuan tarif resiprokal tersebut.
Airlangga menyebut bahwa tarif 19 persen yang diperoleh Indonesia merupakan salah satu yang terendah di kawasan Asia Tenggara, kecuali Singapura yang mendapat tarif hanya 10 persen dari AS.
Beberapa komoditas yang mendapat tarif impor nol persen adalah konsentrat tembaga dan katoda tembaga. Hal ini sejalan dengan diskusi strategis terkait perdagangan mineral antara kedua negara.
"Bahkan, untuk copper concentrate, copper cathode di nol (persen) kan. Itu sejalan dengan pembicaraan untuk mineral strategis antara lain copper dan AS sudah umumkan juga. Jadi, itu yang Indonesia sebut industrial commodities, jadi secondary process sesudah ore, sudah sejalan dengan apa yang kemarin diumumkan juga oleh menteri perdagangan dari Gedung Putih," kata Menko.
Baca juga: 5 Ide Bisnis Digital yang Menjanjikan untuk Pemula, Pahami Tipsnya Juga
Direktur Utama Freeport Indonesia, Tony Wenas, menyatakan bahwa perusahaan belum berencana mengalihkan pasar utama tembaga dari Tiongkok ke Amerika Serikat. Faktor logistik dan besarnya permintaan dari Tiongkok menjadi pertimbangan utama dalam keputusan ini.
Menurut Tony Wenas, pengiriman ke Amerika Serikat memerlukan waktu 45 hari, yang membuatnya kurang efisien dibandingkan dengan pasar Tiongkok yang lebih dekat dan memiliki permintaan tinggi.
"Untuk memindahkan pasar? Kalau ke Amerika itu jauh, (butuh waktu pengiriman) 45 hari. Sementara kalau ke China itu cuma 7 hari pengapalan, dan China mengonsumsi 50 persen dari copper di dunia ini," pungkas Tony.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA