Ilustrasi Filipina dan ladang bisnis (Freepik)
INDOZONE.ID - Perusahaan-perusahaan besar dari Indonesia kini sedang gencar memperluas jangkauan dan pengaruh mereka di Filipina, sebuah negara yang dikenal memiliki stabilitas pertumbuhan ekonomi dan potensi pasar yang sangat besar.
Fenomena ekspansi agresif perusahaan Indonesia di pasar Filipina, yang ditandai dengan beroperasinya lebih dari 2.000 gerai Alfamart, pembangunan pabrik Mayora senilai US$80 juta untuk Kopiko, dominasi Salim Group di sektor infrastruktur krusial (termasuk rencana IPO Maynilad senilai Rp14 triliun), menegaskan transformasi korporasi Tanah Air dari sekadar penjual produk menjadi pemain utama yang mengendalikan panggung ekonomi di Asia Tenggara.
Namun, ekspansi tentu membawa tantangan. D'Consulting Group sendiri pernah melalui proses ekspansi yang sulit sebelum akhirnya berhasil merumuskan sistem operasional yang terbukti efisien dan stabil.
Baca juga: Pemerintah Perkuat Industri Baja Nasional, Fokus Kurangi Ketergantungan Impor
Strateginya bukan lagi soal rasa saja, tetapi juga budaya. Mayora menanamkan citra Kopiko melalui drama Korea dan menyelaraskan produknya dengan selera lokal seperti varian Brown Sugar Kopiko yang laris di sana.
Pasar kopi instan di Filipina sendiri telah berkembang pesat, diproyeksikan mencapai USD 5,12 miliar pada 2030. Kopiko bergerak cepat sebelum kompetitor datang.
Sejak masuk pada tahun 2014, kini mereka sudah punya lebih dari 2.400 gerai, mempekerjakan 12.500 tenaga kerja lokal dan 24 manajer asal Indonesia.
Dengan investasi besar hingga mencapai Rp500-600 miliar untuk distribution center, Alfamart menggandeng SM Group, konglomerat ritel terbesar di Filipina yang menjadi langkah cemerlang untuk mempercepat penetrasi pasar.
Ilustrasi pebisnis di Filipina. (Freepik)
Bukan lagi menjual obat resep, Kalbe berfokus pada suplemen dan produk gaya hidup sehat. Melalui perusahaan patungan dengan Ecosstential Food Corp, Kalbe memanfaatkan tren meningkatnya kesadaran kesehatan di Filipina.
Kemitraan lokal menjadi tonggak yang membuat Kalbe tidak hanya menjual produk saja, melainkan juga memahami kebutuhan pasar dari dalam.
Melalui PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, mereka bermitra dengan First Gen Crop dari Filipina guna mengembangkan enam proyek panas bumi dengan kapasitas total 440 MW.
Nilai investasi awal diperkirakan sebesar USD 80 juta. Ini bukan hanya proyek energi saja, tetapi bentuk kerja sama strategis lintas negara antara dua konglomerat besar Asia Tenggara.
Anthoni Salim diklaim paling agresif. Melalui First Pacific Ltd., ia memegang saham di perusahaan vital Filipina, seperti:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram @dconsulting.id