Ilustrasi penjualan ritel. (Freepik)
INDOZONE.ID - Tingginya angka inflasi kini menjadi persoalan ekonomi global yang dirasakan di banyak negara. Lonjakan harga barang dan jasa berdampak pada hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama terkait melemahnya daya beli.
Bagi konsumen, kondisi ini membuat nilai uang yang dimiliki tidak lagi mampu membeli barang maupun layanan sebanyak periode sebelumnya.
Hal ini berdampak langsung pada gaya hidup, pola konsumsi, dan kesejahteraan ekonomi rumah tangga.
Lantas, seperti apa inflasi bisa memengaruhi daya beli masyarakat, kebijakan yang diambil untuk mengatasinya, serta bagaimana masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan tantangan ini? Simak selengkapnya di bawah ini!
Baca juga: Transformasi Digital UMKM, Strategi Bertahan di Era Ekonomi Modern
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam jangka waktu tertentu, yang mengakibatkan penurunan daya beli uang. Inflasi bisa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:
Meskipun inflasi dalam tingkat moderat bisa menjadi indikator ekonomi yang sehat, inflasi yang terlalu tinggi atau terlalu cepat dapat menciptakan ketidakstabilan, yang berimbas pada perekonomian secara keseluruhan.
Inflasi yang tinggi sangat mempengaruhi daya beli masyarakat. Berikut adalah beberapa dampaknya:
Kebutuhan pokok seperti pangan, bahan bakar, hingga biaya tempat tinggal umumnya mengalami kenaikan tajam saat inflasi melonjak. Kondisi ini membuat banyak keluarga terpaksa mengalokasikan anggaran lebih besar untuk kebutuhan harian, sementara pendapatan mereka tidak selalu bertambah dengan cepat.
Misalnya, harga komoditas seperti beras, minyak goreng, dan daging sering meningkat, sehingga daya beli masyarakat otomatis berkurang.
Kenaikan harga berdampak langsung pada melemahnya daya beli masyarakat. Dengan jumlah uang yang sama, barang dan jasa yang bisa didapatkan menjadi lebih sedikit. Situasi ini membuat konsumen terpaksa menekan pengeluaran, bahkan untuk kebutuhan pokok.
Contohnya, sejumlah keluarga harus mengurangi pemakaian energi atau menyesuaikan pola belanja, dari sebelumnya membeli produk premium kini beralih ke pilihan yang lebih ekonomis.
Ketika inflasi tinggi, masyarakat cenderung lebih selektif dalam pengeluaran mereka. Mereka lebih memilih untuk membeli barang-barang yang lebih murah dan mengurangi pengeluaran untuk barang-barang yang bersifat non-esensial.
Produk-produk bermerek atau barang-barang mewah mungkin terpaksa dihindari. Sebagai akibatnya, beberapa sektor ekonomi yang bergantung pada konsumsi barang-barang mewah atau high-end akan mengalami penurunan penjualan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Pe.feb.unesa.ac.id