Selasa, 21 JULI 2026 • 12:07 WIB

Bedah Alasan dan Sejarah Penetapan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia

Author

Mohammad Hatta (/biografimohammadhattakelompok7.blogspot.com)

INDOZONE.ID - Gelar Bapak Koperasi Indonesia yang disematkan kepada Mohammad Hatta atau Bung Hatta bukanlah sebatas sebutan kehormatan biasa.

Meski dia bukan orang pertama yang mendirikan wadah simpan pinjam di Tanah Air, kontribusi gagasan, dedikasi, serta praktik nyatanya menjadi pilar utama berdirinya sistem ekonomi kerakyatan Indonesia.

Melalui pemikiran akademis dan aksi di lapangan, Bung Hatta berhasil merumuskan fondasi koperasi sebagai alat perjuangan ekonomi rakyat.

Oleh karena itu, mari kita bahas mengenai rekam jejak penetapan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia menjadi panduan penting agar kamu makin mengerti akar sejarah perekonomian nasional.

Baca juga: 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Diresmikan Presiden Prabowo Hari Ini

Pilar Dasar Penetapan Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia

1. Pidato Bersejarah pada Kongres Koperasi 1951

Pada Kongres Koperasi pertama tanggal 12 Juli 1951, Bung Hatta menyumbangkan pidato radio monumental mengenai pentingnya koperasi untuk menyejahterakan rakyat Indonesia.

Momen bersejarah ini tidak hanya membakar semangat gotong royong nasional, tetapi juga ditetapkan sebagai cikal bakal Hari Koperasi Indonesia.

Peristiwa ini akan memandu memahami awal mula pengakuan besar bangsa atas pemikiran Bung Hatta.

2. Keputusan Resmi Kongres Koperasi Bandung 1953

Pengakuan resmi atas gelar Bapak Koperasi Indonesia disepakati secara aklamasi pada Kongres Koperasi yang digelar di Bandung pada 17 Juli 1953.

Seluruh peserta kongres menilai bahwa gagasan emas sang Proklamator telah membawa arah baru bagi perekonomian rakyat.

Keputusan sejarah ini membantu kamu melihat betapa kuatnya konsensus nasional terhadap jasa-jasanya.

3. Praktik Nyata Pengelolaan Koperasi di Banda Neira

Jauh sebelum kemerdekaan, saat diasingkan di Banda Neira pada tahun 1930-an bersama Sutan Sjahrir dan Iwa Kusuma Sumantri, Bung Hatta telah mempraktikkan cara kerja koperasi yang adil.

Dia mengambil hasil panen langsung dari petani dan memperpendek jalur distribusi agar harga jual ke masyarakat tetap murah tanpa merugikan produsen.

Pengalaman ini membuktikan bahwa Bung Hatta tidak sekadar berteori, tapi juga memberi contoh nyata.

Baca juga: Apa Itu Koperasi Simpan Pinjam? Begini Cara Kerja dan Syarat Pinjamnya

4. Buku Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun

Lewat karya tulisnya di tahun 1971, Bung Hatta merumuskan tujuh nilai semangat koperasi seperti kebenaran, keadilan, kejujuran, dan kekeluargaan demi membebaskan masyarakat dari kemiskinan.

Buku ini menjadi kitab rujukan utama gerakan perkoperasian di seluruh Tanah Air. Pemikiran tertulis ini memberi kamu wawasan teoretis yang sangat mendalam mengenai visi ekonominya.

5. Perumusan Tujuh Prinsip Utama Koperasi

Bung Hatta menyusun pedoman dasar yang meliputi keanggotaan sukarela, pengendalian demokratis, partisipasi ekonomi, hingga kepedulian komunitas.

Prinsip-prinsip ini dirancang agar lembaga koperasi tidak melenceng menjadi wadah pengeruk keuntungan pribadi layaknya lintah darat.

Penerapan landasan ini memastikan kamu paham cara menjaga integritas dan tujuan mulia koperasi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Quipper.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU