INDOZONE.ID - Saat ini, siapa yang gak tergiur dengan kalimat "beli sekarang, bayar nanti?"
Di era digital sekarang, fitur paylater sudah jadi penyelamat sekaligus sahabat bagi sebagian besar anak muda saat mau belanja tapi dompet menipis.
Namun, di balik kemudahan tersebut, ada bahaya nyata yang sedang mengintai.
Akademisi Ekonomi Syariah dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Syah Amelia Manggala Putri, menyebut kalau paylater diam-diam sudah mengubah cara kita bertransaski dan sukses bikin anak muda makin konsumtif akibat terjebak impulse buying (belanja impulsif tanpa mikir panjang).
Baca juga: Marak Penipuan Digital dan Scam Paylater, Masyarakat Diminta Lebih Waspada
Kenapa kita gampang banget tergiur? Amelia menjelaskan bahwa secara psikologis, paylater memberikan kenyamanan yang semu.
"Kemudahan akses tanpa jaminan dan persetujuan yang instan itu menciptakan ilusi seolah-olah barang yang dibeli itu murah. Padahal yang terjadi sebenarnya hanyalah menunda beban keuangan, bukan menghapusnya," jelas Amelia seperti dilansir Antara, Rabu (27/5/2026).
Mahasiswa dan generasi muda dinilai sebagai kelompok yang paling rapuh dalam lingkaran ini.
Bayangkan saja, di tengah gempuran tren media sosial yang menuntut untuk selalu tampil kekinian, kita disuguhi promo paylater yang masif.
Kalau nggak kuat iman, godaan belanja berlebih jadi susah banget dikontrol.
Dampak buruknya nggak main-main. Mulai dari tumpukan utang yang bikin pusing, stres karena tagihan, hubungan sosial yang renggang, sampai risiko mengerikan seperti kebocoran data pribadi.
Baca juga: Paylater dan Cicilan Digital, Solusi atau Jebakan Finansial Anak Muda?
Lebih jauh, Amelia mengingatkan agar kita semua nggak malas untuk meningkatkan literasi keuangan.
Sebelum mengklik tombol paylater, pastikan kamu sudah paham struktur biayanya (termasuk bunga dan denda), yakin bisa bayar tepat waktu, dan cek apakah aplikasinya legal atau abal-abal.
Ingat, dalam prinsip Islam, kemakmuran itu bukan dilihat dari seberapa banyak barang bermerek yang kita punya, melainkan bagaimana harta tersebut dikelola untuk kebaikan.
"Konsep falah, yaitu kesuksesan di dunia dan akhirat, harus menjadi kompas kita dalam berperilaku keuangan," tambahnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara