Kamis, 19 FEBRUARI 2026 • 16:11 WIB

Lonjakan Optimisme AI Ikut Pengaruhi Pasar Obligasi Global

Author

Ilustrasi obligasi (freepik). 

INDOZONE.ID - Kegilaan seputar kecerdasan buatan (AI) kini tidak hanya mengguncang pasar saham, tapi juga mulai merambah dunia obligasi

Spekulasi tentang dampak AI terhadap produktivitas tenaga kerja global ikut mempengaruhi pergerakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS, atau treasuries, pekan ini. 

Penurunan yield terjadi di tengah pasar yang mulai mempertimbangkan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Federal Reserve (The Fed).

Imbal hasil treasuries AS turun ke level terendah tahun ini di seluruh kurva. 

Kontrak berjangka suku bunga The Fed hingga tahun depan bahkan sempat jatuh di bawah 3 persen untuk pertama kalinya dalam empat bulan. 

Baca juga: Barang Illith: Jenis Barang yang Justru Laris Saat Dompet Tipis

Pergerakan ini menghidupkan kembali spekulasi bahwa The Fed mungkin akan memangkas suku bunga hingga tiga kali, atau bahkan lebih.

Optimisme AI Beri 'Alasan' bagi The Fed untuk Pangkas Suku Bunga

Penurunan imbal hasil ini terjadi meskipun data inflasi dan ketenagakerjaan AS terbaru belum memberikan lampu hijau bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneternya. 

Laporan pekerjaan Januari yang mengejutkan dengan pertumbuhan payrolls yang kuat justru menambah kerumitan. Lantas, apa yang berubah?

Salah satu alasannya adalah pergantian kepemimpinan di The Fed. 

Kevin Warsh, calon ketua The Fed pilihan Presiden Donald Trump, dijadwalkan mengambil alih posisi puncak pada Mei mendatang. 

Baca juga: Apa Itu Likuiditas? Simak Jenis dan Cara Mengukurnya

Ada asumsi kuat bahwa Warsh akan lebih akomodatif terhadap permintaan Trump untuk pemangkasan suku bunga yang agresif.

Namun, faktor kunci lainnya adalah gelombang optimisme baru seputar AI. 

Dalam wawancara akhir tahun lalu, Warsh sendiri menyebut AI sebagai "gelombang peningkatan produktivitas terbesar di masa hidup kita" dan meyakini teknologi ini akan bersifat "disinflasioner secara struktural," mirip dengan ekspansi internet dulu.

Argumennya, jika AI benar-benar memicu lonjakan produktivitas tenaga kerja, hal itu bisa menekan harga-harga (disinflasi). 

Untuk mengimbangi efek tersebut, The Fed mungkin perlu memangkas suku bunga lebih cepat. 

Kini, pasar saham pun mulai percaya bahwa dampak AI terhadap korporasi terjadi lebih cepat dan luas dari perkiraan, memberi "alasan" bagi bank sentral untuk bertindak.

Baca juga: Hati-Hati Kena Denda! Batas Lapor SPT 31 Maret Kepotong Libur Nyepi dan Awal Puasa, Segera Lapor Sekarang!

Skeptisisme: Investasi Raksasa AI Justru Bisa Panaskan Ekonomi

Meski optimisme menggelora, sejumlah pengamat tetap skeptis. 

Jason Thomas, kepala riset di Carlyle, mengingatkan bahwa baik bukti historis maupun teoritis tidak serta-merta mendukung hubungan sederhana antara produktivitas AI dan suku bunga rendah.

"AI tidak jatuh begitu saja dari langit," tulis Thomas. 

Ia menekankan bahwa investasi tahunan senilai triliunan dolar untuk komputer bertenaga raksasa justru bisa menjadi "roket" bagi seluruh perekonomian. 

Jika guncangan teknologi memicu lonjakan investasi bisnis yang sangat besar, teori ekonomi menyebutkan bahwa suku bunga riil justru harus naik untuk mendorong rumah tangga menunda konsumsi dan mencegah ekonomi过热 (overheating).

Baca juga: Barang Setengah Jadi: Peranannya Dalam Proses Produksi dan Dunia Manufaktur

Situasi serupa terjadi pada akhir 1990-an saat booming internet dan dot-com, ketika suku bunga riil jangka pendek melonjak hingga 300 basis poin. 

Thomas juga memperingatkan, jika ledakan investasi ini membentur keterbatasan sumber daya, inflasi bisa tetap tinggi meski ada peningkatan produktivitas.

Ia menyimpulkan, meski AI pada akhirnya bisa menekan biaya operasional dan tingkat harga, bertindak sebelum ada bukti yang jelas dan nyata justru berisiko memanaskan ekonomi di tengah inflasi yang masih di atas target.

Antara Lompatan Keyakinan dan Bukti Nyata

Saat ini, The Fed yang masih dipimpin pejabat lama memilih bersikap agnostik dan menunggu bukti konkret. 

Baca juga: Jam Operasional Bank Jatim Selama Ramadhan 2026, Simak Jadwal Layanan Kas di Jawa Timur, Jakarta, dan Batam

Namun, gejolak di pasar obligasi pekan ini menunjukkan bahwa tekanan dari narasi AI tidak lagi hanya berada di ranah pasar saham. 

Pertanyaannya kini, akankah bank sentral dunia, termasuk The Fed di bawah kepemimpinan baru, mengambil lompatan keyakinan (leap of faith) sekarang, atau menunggu lebih lama di tengah ketidakpastian?

Yang jelas, perbincangan tentang AI kini telah merambah ke jantung kebijakan moneter global. 

Keputusan yang diambil berdasarkan keyakinan atau bukti nyata akan menentukan arah suku bunga dan imbal hasil obligasi di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Reuters

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU