INDOZONE.ID - Langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia untuk mengembangkan energi nuklir dalam negeri didukung oleh pakar.
Pakar menilai energi nuklir merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi menuju energi bersih.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh pakar energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Bachtiar Nappu.
"Maka PLTN modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small," kata Bachtiar Nappu dalam keterangannya, Minggu (15/02/2026).
Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir.
Baca juga: Menteri Bahlil Pangkas Target Produksi Nikel dan Batu Bara demi Perbaikan Harga
Daerah yang memiliki sumber daya ini pun menurutnya juga tersebar di banyak daerah seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, bahkan di Mamuju.
Oleh karena itu, teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional.
Reaktor modular ini dapat dibangun bertahap sesuai kebutuhan daerah, terutama untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil.
“Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW,” ujar Bachtiar.
Pakar energi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi (STT Migas) Balikpapan, Andi Jumardi menilai jika nuklir adalah energi masa depan yang secara nilai sangat ekonomis.
“Apalagi untuk negara dengan populasi besar seperti Indonesia, karena harganya relatif lebih murah dibanding energi fosil," kata Andi.
Lebih jauh, Andi menyebut, Indonesia sangat mampu mengembangkan energi nuklir karena memiliki sumber daya manusia yang kompeten.
Dia pun menjelaskan bahwa industri nuklir saat ini sudah sangat modern.
Oleh karena itu dia menampik kekhawatiran yang masih jadi perbincangan publik terkait efek negatif dari nuklir tersebut.
“Kalau dari riset yang pernah saya lakukan, dari sisi sumber daya manusia kita sangat kompeten untuk pengembangan energi nuklir. Kita juga punya cadangan uranium di Kalimantan Barat. Kasus Fukushima itu force majeure karena bencana alam yang luar biasa. Dari situ, teknologi terus berkembang untuk mengantisipasi risiko serupa di masa depan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Narasumber