Selasa, 27 JANUARI 2026 • 11:07 WIB

Kemenperin Apresiasi Industri Baja Tambah Investasi Produksi

Author

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. (Dok. Humas Kemenperin.)

INDOZONE.ID - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan peran penting industri baja dalam menopang pembangunan nasional. Dorongan ini diwujudkan lewat peresmian peletakan batu pertama fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 milik PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa baja merupakan fondasi bagi banyak sektor strategis.

“Industri baja nasional memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, serta industri turunan seperti otomotif, permesinan, galangan kapal, hingga energi,” ujarnya dalam pernyataan yang diterima Indozone dikutip Indozone, Selasa (27/1/2026).

Kemenperin mencatat kinerja industri baja nasional terus membaik. Dalam lima tahun terakhir, produksi baja melonjak hampir 98,5 persen dibandingkan 2019 yang masih berada di level 8,5 juta ton.

Menurut Agus, lonjakan ini menunjukkan kapasitas industri baja dalam negeri semakin kuat dan kompetitif, baik di pasar domestik maupun global.

“Kapasitas industri baja nasional terus tumbuh dan semakin kompetitif,” katanya.

Baca juga: Kemenperin Dorong Pasokan Susu UHT untuk MBG, Ultrajaya Investasi Rp1,14 T

Untuk menjaga momentum tersebut, Kemenperin mengandalkan berbagai kebijakan strategis. Mulai dari penerapan trade remedies, kewajiban SNI, hingga fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT).

Prosesi pelaksanaan ground breaking fasilitas Continuous Galvanizing Line (CGL) 2 PT Tata Metal Lestari di Purwakarta, Jawa Barat. (Dok. Humas Kemenperin.)

Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan produk dalam negeri, pemberian insentif fiskal, serta penerapan prinsip industri hijau.

Baca juga: WEF Davos 2026 Jadi Panggung Kemenperin Perkuat Industri Nasional

Semua kebijakan ini diarahkan agar kapasitas dan utilisasi industri baja tumbuh secara berkelanjutan.

“Kebijakan ini ditujukan untuk memperkuat daya saing produk baja nasional di pasar domestik dan ekspor,” tutur Agus.

Investasi CGL 2 Sejalan Arah Industrialisasi

Kemenperin memberikan apresiasi khusus kepada PT Tata Metal Lestari dan Tatalogam Group atas komitmen investasinya.

Pembangunan CGL 2 dinilai selaras dengan agenda penguatan kemandirian industri dan hilirisasi.

“Kami berharap fasilitas ini dapat beroperasi optimal dan memberi kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Direktur Industri Logam Kemenperin, Dodiet Prasetyo.

Menurut Kemenperin, kehadiran fasilitas baru ini akan memperkuat ekosistem industri baja dari hulu ke hilir sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Dari sisi pelaku usaha, VP of Operations PT Tata Metal Lestari, Stephanus Koeswandi, menegaskan bahwa CGL 2 menjadi bagian penting dari penguatan industri antara atau midstream baja.

“Industri antara berperan krusial sebagai penghubung antara hulu dan hilir. Tanpa sektor ini yang kuat, rantai pasok akan rapuh dan ketergantungan impor terus tinggi,” ujarnya.

Saat ini, perusahaan tidak hanya memenuhi pasar domestik, tetapi juga mengekspor baja lapis ke 25 negara, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.

Target Kapasitas dan Teknologi Ramah Lingkungan

Pembangunan CGL 2 menjadi bagian dari peta jalan jangka panjang perusahaan. Targetnya, kapasitas terpasang baja lapis bisa mencapai 2,5 juta ton dalam 10 tahun ke depan.

Fasilitas baru ini akan menambah kapasitas produksi sebesar 250 ribu ton per tahun, melengkapi CGL 1 di Cikarang yang sudah berproduksi 500 ribu ton per tahun.

Dalam pengembangannya, PT Tata Metal Lestari menggandeng Tenova dari Italia untuk memastikan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan.

“Ini bukti keseriusan kami mendukung transformasi menuju industri hijau dan target net-zero emission,” kata Stephanus.

Tak hanya soal produksi, kehadiran CGL 2 juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi daerah. Proyek ini merupakan bagian dari total investasi Rp1,5 triliun dan akan menyerap sekitar 350 tenaga kerja baru.

Menariknya, fasilitas ini disebut sebagai lini pertama di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi pelapisan zinc magnesium dan zinc aluminium magnesium.

“Teknologi ini bisa meningkatkan umur penggunaan baja hingga empat kali,” pungkas Stephanus.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Kemenperin

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU