Ilustrasi Margin trading. (Eliani Kusnedi)
INDOZONE.ID - Dalam dunia saham, ada satu istilah yang sering membuat penasaran, yaitu margin trading. Untuk yang baru terjun ke pasar modal, konsep ini kelihatan menggiurkan karena bisa cuan lebih cepat. Tapi di balik potensi untung besar, ada risiko yang juga nggak main-main.
Margin trading adalah fasilitas yang memungkinkan investor membeli saham dengan dana pinjaman dari broker. Jadi, kamu nggak hanya pakai modal sendiri, tapi juga menambah tenaga lewat leverage agar daya belinya lebih besar.
Kedengarannya menarik, tapi sebelum memutuskan, penting untuk paham cara kerja dan risikonya.
Baca juga: 10 Tips Investasi Emas yang Aman, Cocok untuk Pemula
Secara sederhana, margin trading adalah praktik membeli saham menggunakan sebagian dana sendiri dan sebagian lagi pinjaman dari broker.
Sistemnya mirip kredit, dengan kamu menyediakan sejumlah dana sebagai jaminan (margin), lalu broker meminjamkan sisanya. Dengan cara ini, kamu bisa mengendalikan nilai transaksi yang lebih besar dibanding modal awal.
Contoh simpelnya:
Kalau harga saham naik 10 persen, keuntungan yang kamu dapat bukan 500 dolar AS, tapi 1.000 dolar AS. Tapi kalau harga turun 10 persen, kerugiannya juga jadi 1.000 dolar AS. Jadi efeknya bekali lipat, baik saat untung maupun rugi.
Baca juga: Mengenal RDN, Simak Fungsi dan Keamanannya dalam Investasi Saham
Banyak trader tertarik pakai margin karena beberapa alasan ini.
Dengan modal yang sama, kamu bisa beli saham lebih banyak dibanding transaksi tunai biasa.
Kalau analisis kamu tepat dan momentum pas, return bisa terasa lebih cepat karena ada efek leverage.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Heygotrade.com