Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 12 DESEMBER 2025 • 10:55 WIB

Rupiah Menguat, Dipengaruhi Keputusan The Fed dan Data Ketenagakerjaan AS

Rupiah Menguat, Dipengaruhi Keputusan The Fed dan Data Ketenagakerjaan ASIlustrasi mata uang rupiah. (Freepik/timothyroesdiah)

INDOZONE.ID - Rupiah kembali menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan  di Jakarta, Jumat. Rupiah naik 10 poin atau 0,06 persen, menjadi Rp16.666 per dolar AS, dibanding posisi sebelumnya di Rp16.676 per dolar AS.

Kenaikan tipis ini terjadi dari hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Desember 2025. Keputusan bank sentral Amerika Serikat tersebut dinilai membawa angin segar bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa kebijakan terbaru The Fed menjadi faktor utama yang mendorong penguatan rupiah.

Baca juga: Survei: Gen Z Mulai Tertarik Buka Tabungan Deposito dan Tabungan Digital, Kenapa?

Dalam keterangannya, Josua menyebut, 

“The Fed memangkas suku bunga kebijakan sebesar 25 bps menjadi 3,50 - 3,75 persen dan mengumumkan dimulainya kembali pembelian surat berharga Pemerintah AS senilai 40 miliar dolar AS.” ucapnya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Ia menilai langkah tersebut dibaca pasar sebagai sinyal bahwa The Fed mulai keluar dari fase Quantitative Tightening (QT). Alhasil, dolar AS melemah secara luas dan memberikan ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk menguat.

Baca juga: Inovasi Edible Fragrances dari Para Perusahaan Parfum, Dorong Masa Depan Industri Wewangian Indonesia

Selain itu, Josua menyoroti kenaikan data Initial Jobless Claims AS yang meningkat signifikan. 

“Ini menandai peningkatan mingguan terbesar sejak Maret 2020, memperkuat tanda-tanda melemahnya pasar tenaga kerja AS.” jelas Josua.

Kondisi tersebut semakin menekan dolar AS dan memperkuat sentimen positif bagi rupiah.

Baca juga: Wamendagri Ribka Haluk Terima Penghargaan Tokoh Percepatan Pembangunan Papua

Pada pertemuan FOC, Desember 2025, yang membuat yield UST turun sedangkan rupiah menguat. Hal ini turut menyebabkan oenuruan yield SBN, terutama untuk tenor pendek.

Yield SBN benchmark 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun masing-masing berada di angka 5,63 persen (-3 basis points/bps), 6,18 persen (-1 bps), 6,46 persen (0 bps), dan 6,58 persen (0 bps) pada Kamis (11/12/2025).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: ANTARA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Rupiah Menguat, Dipengaruhi Keputusan The Fed dan Data Ketenagakerjaan AS

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!