Ilustrasi saham. (Freepik/sodawhiskey)
INDOZONE.ID - Kalau ngomongin dunia investasi, sebenarnya nggak ada “jalan tunggal” yang pasti benar. Ada yang suka main saham growth, ada yang doyan trading harian, ada juga yang betah di obligasi. Semua balik lagi ke tujuan finansial, kondisi keuangan pribadi, dan tentu saja tingkat toleransi risiko masing-masing orang. Tapi ada satu strategi yang makin populer buat mereka yang mikir jangka panjang, yaitu dividend growth investing.
Singkatnya, ini strategi investasi dengan cara memilih perusahaan yang rutin bagi-bagi dividen, dan lebih penting lagi, dividen itu terus naik dari tahun ke tahun. Jadi, bukan cuma dapat cuan dari naik-turunnya harga saham, tapi juga dari aliran dividen yang makin besar.
Kenapa sih banyak orang suka strategi ini? Karena biasanya perusahaan yang konsisten kasih dividen dianggap lebih stabil. Harga saham bisa aja naik-turun karena faktor eksternal, tapi dividen yang terus tumbuh jadi semacam “tolak ukur” kesehatan keuangan perusahaan itu sendiri.
Baca juga: Jangan Sampai Tertipu, Kenali 10 Ciri Investasi Bodong Dan Cara Menghindarinya
Banyak investor cuma fokus ke capital gain alias selisih beli murah jual mahal. Padahal, kalau dilihat dari sejarah pasar saham, dividen punya kontribusi besar banget terhadap total return.
Ada studi dari Hartford Funds yang ngulik data S&P 500 dari 1960 sampai 2021. Hasilnya, sekitar 40% total return itu datang dari dividen. Bahkan, 84% dari total return selama periode itu ternyata berasal dari dividen yang direinvest plus efek compounding. Gokil, kan? Jadi, kalau cuma lihat harga saham naik-turun doang, sebenarnya kamu kelewat salah satu sumber keuntungan paling penting di pasar.
Banyak pemula suka bingung antara dividend yield sama dividend growth. Singkatnya gini:
Yield memang penting, tapi growth biasanya lebih menggambarkan kesehatan perusahaan dalam jangka panjang. Soalnya, yield bisa menipu. Misalnya harga saham jatuh tapi dividen dipotong, yield bisa kelihatan lebih tinggi, padahal sebenarnya perusahaan lagi nggak sehat. Perusahaan yang rutin naikkan dividen biasanya juga rutin naikkan pendapatan. Itu tanda bagus.
Walaupun dividen bisa jadi indikator bagus, bukan berarti dijamin aman selamanya. Dividen bisa dipotong kalau perusahaan lagi seret. Makanya, penting buat lihat “di balik layar”:
Salah satu metrik yang sering dipakai adalah payout ratio, alias persentase laba bersih yang dipakai buat bayar dividen. Kalau payout ratio terlalu tinggi, artinya perusahaan nyaris habis-habisan buat bayar dividen, jadi rentan kalau kondisi ekonomi goyah.
Dividend growth investing jelas bukan buat mereka yang ngejar cuan cepat. Ini lebih cocok buat investor sabar yang mikir jangka panjang. Keuntungannya ada dua: kalau dividen direinvest, efek compounding bakal jadi mesin uang yang luar biasa. Kalau nggak direinvest, dividen bisa jadi sumber penghasilan pasif. Itu sebabnya strategi ini populer banget di kalangan pensiunan yang butuh aliran dana rutin.
Baca juga: Tips dari Menkeu Purbaya: Belajar Dulu Sebelum Berinvestasi, Jangan Terjebak FOMO
Tentu saja, kayak semua strategi investasi lain, tetap ada risikonya. Harga saham bisa turun, dividen bisa dipotong, bahkan modal awal bisa berkurang. Tapi kalau digabung sama portofolio yang seimbang dan terdiversifikasi, dividend growth investing bisa jadi salah satu “fondasi” strategi investasi jangka panjang.
Intinya, dividend growth investing bukan sekadar “dapet duit tiap kuartal.” Ini soal memilih perusahaan yang punya fundamental kuat, komitmen ke pemegang saham, dan prospek jangka panjang yang solid. Memang butuh kesabaran, tapi bagi banyak orang, strategi ini terbukti jadi jalan aman buat membangun kekayaan secara konsisten.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Lenoxadvisors.com