Rabu, 03 JUNI 2026 • 16:27 WIB

Moody’s Beri Outlook Negatif Danantara Investment Management, IHSG Merosot Tajam! Ini Analisis Lengkapnya

Author

Ilustrasi IHSG. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Pasar modal Indonesia terguncang hebat pada perdagangan pertengahan pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,11% atau 254,36 poin ke 5.941,07 Rabu (3/6), menghadapi beragam sentimen negatif dari dalam hingga luar negeri. Pelemahan indeks acuan ini tak lepas dari sentimen makro yang bergulir, salah satunya adalah kabar bahwa lembaga pemeringkat global Moody's Ratings (Moody's) telah memberikan peringkat emiten Baa2 kepada Danantara Investment Management (DIM).

Walaupun peringkat yang disematkan tergolong investment grade, pelaku pasar menyoroti secara tajam karena Moody's menetapkan kategori negatif pada outlook Danantara. Berita ini langsung menjadi buah bibir para pelaku pasar modal. Lantas, apa yang menjadi dasar pemeringkatan ini dan bagaimana kondisi finansial perusahaan pelat merah tersebut? Simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Apa Itu Rating Moody's? Ini Fungsi dan Pengaruhnya bagi Perekonomian Indonesia

Alasan Moody’s Beri Outlook Negatif Danantara Investment Management

Secara spesifik, Moody’s menetapkan peringkat sementara atau provisional rating (P)Baa2 atas program Global Medium-Term Note (GMTN) senior tanpa jaminan milik Danantara Investment Management (DIM). Sebagai tambahan, Moody’s juga memberikan peringkat Baa2 untuk surat utang senior tanpa jaminan yang akan diterbitkan perusahaan. Pihak Moody's menyebutkan bahwa obligasi dalam program ini dapat diterbitkan oleh DIM sendiri atau oleh DIM dan anak perusahaan penerbit secara bersama-sama dan terpisah.

Kendati berada pada level yang setara dengan peringkat utang Pemerintah Indonesia, Moody’s menetapkan prospek negatif terhadap seluruh peringkat DIM. Lembaga pemeringkat tersebut mengatakan, peringkat Baa2 yang diberikan pada Danatara selaras dengan peringkat kedaulatan Baa2 Pemerintah Indonesia, yang mencerminkan keterkaitan kredit yang kuat antara DIM dan pemerintah.

Wakil Presiden dan Analis Senior Moody's Ratings, Rachel Chua, memberikan penjelasan rinci mengenai hal ini. “Peringkat penerbit Baa2 Danantara Investment Management dengan prospek negatif sejalan dengan peringkat kedaulatan Pemerintah Indonesia, yaitu Baa2 dengan prospek negatif. Peringkat tersebut didukung oleh keterkaitan kredit yang kuat, termasuk struktur kepemilikan DIM dalam kerangka kelembagaan Danantara, serta ekspektasi kami terhadap dukungan luar biasa dari pemerintah yang diberikan secara tepat waktu,” ujar Chua. Keterkaitan ini mencakup struktur kepemilikan DIM, perannya dalam Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), dan harapan akan dukungan luar biasa dari pemerintah secara tepat waktu.

Kekuatan Finansial dan Status Sebagai Emiten Terkait Pemerintah (GRI)

Dalam metodologinya, Moody’s mengategorikan DIM sebagai Government Related Issuer (GRI) atau entitas yang memiliki keterkaitan erat dengan pemerintah. Moody's juga menyebutkan, pihaknya mengklasifikasikan Danantara sebagai Emiten Terkait Pemerintah (GRI) dan menerapkan pendekatan top-down.

Penilaian status entitas tersebut didasarkan pada beberapa faktor kuat, yaitu status kepemilikan penuh oleh BPI Danantara, dukungan landasan hukum melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025, serta tingginya tingkat pengawasan pemerintah terhadap aktivitas perusahaan. Oleh sebab itu, tidak ada Penilaian Kredit Dasar (BCA) yang diberikan, yang mencerminkan tahap perkembangan DIM yang masih awal, rekam jejak yang terbatas, dan tidak adanya operasi mandiri yang berarti; oleh karena itu, peringkat ini terutama didorong oleh keterkaitan dengan pemerintah daripada kekuatan kredit mandiri.

Integrasi antara DIM dan pemerintah pusat memang terjalin sangat pekat. Anggaran tahunan DIM dikonsolidasikan ke dalam anggaran BPI Danantara, yang berada di bawah pengawasan dewan beranggotakan 11 orang, termasuk sembilan menteri aktif. Selain itu, rencana kerja dan anggaran perusahaan juga harus dikonsultasikan dengan DPR. Tata kelola ini semakin diperkuat oleh tumpang tindih dalam manajemen senior dan perwakilan dewan antara BPI Danantara dan DIM, yang mendukung keselarasan strategi dan pelaksanaan investasi.

Dari sisi keuangan, Moody’s menilai posisi likuiditas DIM berada pada level sangat kuat. Hal ini dibuktikan dengan beberapa poin penting:

  • Pada 2025, perusahaan menerima penyertaan modal awal sebesar Rp70 triliun dari BPI Danantara dan diperkirakan kembali memperoleh tambahan modal Rp50 triliun pada 2026.
  • Selain dukungan permodalan, DIM juga telah mengakses pendanaan eksternal melalui penerbitan Patriot Bonds senilai Rp68,4 triliun dan fasilitas kredit bergulir atau revolving credit facility sebesar US$10 miliar.
  • Dari fasilitas tersebut, sebesar US$1 miliar telah memperoleh komitmen pendanaan dan sebagian telah digunakan untuk mendukung investasi pada private investment funds serta sektor properti.
  • Moody’s juga mencatat DIM tidak memiliki kewajiban pembayaran dividen dan tidak menghadapi jatuh tempo utang dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Kondisi tersebut dinilai semakin memperkuat profil likuiditas perusahaan.

Baca juga: Rupiah Melemah Imbas Moody’s Revisi Outlook Indonesia, Berapa Nilainya?

Imbas Langsung ke Pasar Saham: IHSG dan Aksi Jual Asing

Kabar prospek negatif ini dinilai menjadi salah satu pemberat langkah pasar modal Tanah Air. Menghadapi pelemahan IHSG pada sesi pertama, investor asing mencatatkan net sell atau penjualan bersih Rp525,37 miliar. Sejumlah saham bank tampak memimpin daftar net sell terbesar dari investor asing, sementara sebagian saham emiten tambang diakumulasi.

Berikut adalah rincian daftar saham yang paling banyak dilepas asing (Top 5 Net Foreign Sell) pada sesi pertama hari Rabu:

  • PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) — Rp265,32 miliar.
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) — Rp257,53 miliar.
  • PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) — Rp198,73 miliar.
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) — Rp104,14 miliar.
  • PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) — Rp90,94 miliar.

Meski IHSG terguncang parah, sejumlah emiten tambang dan energi masih menjadi primadona incaran asing (Top 5 Net Foreign Buy):

  • PT Bumi Resources Tbk (BUMI) — Rp165,59 miliar.
  • PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) — Rp87,04 miliar.
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) — Rp86,96 miliar.
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) — Rp43,21 miliar.
  • PT Darma Henwa Tbk (DEWA) — Rp42,71 miliar.

Secara keseluruhan, pelaku pasar harus memantau ketat perkembangan ini. Moody’s menilai peluang kenaikan peringkat DIM dalam waktu dekat relatif terbatas. Sebaliknya, peringkat perusahaan berpotensi mengalami penurunan apabila peringkat kedaulatan Indonesia diturunkan, atau apabila terdapat pelemahan hubungan kelembagaan antara DIM dan pemerintah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber, Analisa Redaksi

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU