Jumat, 01 AGUSTUS 2025 • 13:25 WIB

Investasi Cerdas di Era FoMO: 5 Tips untuk Generasi Muda

Author

Ilustrasi investasi. (Freepik) (Freepik)

INDOZONE.ID - Fenomena FoMO (Fear of Missing Out) saat ini menjadi topik yang populer di kalangan Generasi Milenial dan Generasi Z. Berdasarkan berbagai penelitian, FoMO didefinisikan sebagai perilaku psikologis di mana seseorang merasa takut tertinggal dan cenderung mengikuti atau meniru tindakan orang lain tanpa mempertimbangkan keinginan atau kebutuhan pribadi. 

Dalam konteks investasi, FoMO dapat memicu perilaku impulsif di kalangan generasi muda, membuat mereka lebih cenderung mengikuti tren investasi tanpa analisis yang mendalam. 

Generasi muda Indonesia, terutama Milenial dan Gen Z, menunjukkan ketertarikan besar pada investasi di pasar modal. Berdasarkan data, investor muda di bawah 40 tahun mendominasi sekitar 80% dari total investor, dengan Gen Z sendiri mencapai 57%. 

Baca juga: Dorong Investasi di Jawa Tengah, Gubernur Luthfi Pastikan Banyak Jaminan Untuk Investor

Data PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per Agustus 2023 menunjukkan bahwa investor di bawah 30 tahun mencapai 57,26% dengan total aset sebesar Rp50,08 triliun.

Pertumbuhan jumlah investor pasar modal di Indonesia menunjukkan tren positif, dengan peningkatan 11,15% secara year-to-date menjadi 11,46 juta investor. Namun, meskipun kesadaran investasi meningkat, indeks literasi keuangan masih relatif rendah, yaitu 49,68%, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 85,10%. 

Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang sudah mulai berinvestasi, tetapi pemahaman mendalam tentang investasi masih terbatas. Fenomena Fear of Missing Out (FoMO) mungkin berkontribusi pada situasi ini, di mana investor muda cenderung mengikuti tren tanpa analisis yang cukup.

Kerugian akibat investasi ilegal di Indonesia pada tahun 2022 mencapai Rp120,79 triliun, meningkat signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Fenomena FoMO diyakini menjadi penyebab utama, dengan banyak orang berinvestasi pada platform ilegal tanpa pemahaman yang cukup. 

Oleh karena itu, generasi muda perlu lebih berhati-hati dan memahami investasi secara menyeluruh untuk menghindari kerugian besar. Dewan Komisioner LPS menekankan pentingnya "invest smart" dengan mengetahui secara jelas mengenai investasi, bukan hanya sekadar mengikuti tren.

Baca juga: Fakta-Fakta PPATK Bekukan Sementara 140 Ribu Rekening Tidak Aktif, Ini Tipsnya jika Rekening Tidak Dipakai

Menanggapi hal tersebut, ada lima hal yang bisa dilakukan agar generasi muda dapat melakukan investasi dengan cerdas, terhindar dari FoMO, dan mengurangi risiko kerugian. Strategi tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Literasi Keuangan

Penting untuk memiliki literasi keuangan agar dapat memahami pentingnya investasi, manajemen risiko, dan pengelolaan keuangan secara umum. Hal Ini dapat dilakukan melalui pendidikan formal maupun informal. 

Salah satunya program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) yang diselenggarakan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu RI), Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

2. Riset dan Analisis

Melakukan riset dan analisis sebelum melakukan investasi merupakan langkah penting dalam menghindari FoMO (Fear of Missing Out) dan mengurangi risiko kerugian. Memahami bagaimana kinerja perusahaan, tren pasar, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai investasi.

3. Konsultasi dengan Ahli

Meminta masukan dari ahli keuangan atau profesional investasi dapat memberikan wawasan berharga dan membantu dalam membuat keputusan investasi yang lebih tepat dan cerdas. Dengan demikian, kamu dapat meminimalkan risiko dan meningkatkan potensi keuntungan investasi.

4. Kesadaran Risiko

Pemahaman bahwa investasi selalu melibatkan risiko, perbedaan hanya pada skalanya risiko besar atau kecil. Dengan memiliki pemahaman yang baik tentang risiko maka dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijaksana.

5. Mengerti Tujuan Investasi

Mengetahui tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan investasi penting dimiliki, sehingga melakukan investasi bukan semata-mata hanya untuk tujuan FoMO (mengikuti tren) atau sekadar ajang show off(menunjukkan diri).

Fenomena FoMO (Fear of Missing Out) membuat generasi muda lebih terbuka dan tertarik pada investasi, yang dapat berdampak positif pada perekonomian. Namun, FoMO juga dapat memiliki dampak negatif jika generasi muda tidak memiliki pemahaman finansial yang cukup sebelum memasuki pasar keuangan. 

Baca juga: 5 Mitos Tentang Investasi yang Masih Dipercaya oleh Banyak Orang, Jangan Sampai Kamu Termasuk!

Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk memahami investasi secara menyeluruh dan tidak hanya mengikuti tren. Dengan demikian, generasi muda dapat membuat keputusan investasi yang lebih bijak dan terinformasi.

Berinvestasi hanya karena tekanan FoMO atau mengikuti tren dapat berpotensi mengakibatkan kerugian finansial yang signifikan.

Pendidikan finansial dan literasi investasi membantu investor untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas dan meminimalkan risiko kerugian. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Sites.unnes.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU