INDOZONE.ID - Pernah dengar istilah window dressing saat membahas saham atau laporan keuangan?
Sekilas terdengar rumit, padahal istilah ini cukup sering muncul di dunia investasi, terutama menjelang akhir bulan atau tutup buku.
Nah supaya nggak bingung, yuk pahami cara kerja dan contohnya lewat penjelasan berikut:
Window dressing adalah strategi untuk mempercantik tampilan laporan keuangan atau portofolio investasi agar terlihat lebih sehat dan menguntungkan di akhir periode tertentu.
Praktik ini cukup umum terjadi di pasar saham, reksa dana, hingga perusahaan yang tercatat di bursa, terutama menjelang akhir kuartal atau tutup buku tahunan.
Biasanya, perusahaan atau manajer investasi melakukan strategi ini dengan menjual aset yang kinerjanya buruk lalu menggantinya dengan aset yang performanya lebih baik.
Tujuannya agar laporan keuangan atau portofolio yang ditampilkan terlihat lebih menarik di mata investor maupun pemegang saham.
Jadi intinya, window dressing adalah upaya menciptakan kesan positif terhadap performa keuangan, meski kondisi sebenarnya belum tentu sebaik yang terlihat di laporan.
Cara kerja window dressing sebenarnya cukup sederhana dan mudah dipahami.
Dalam dunia investasi, strategi ini sering dilakukan manajer investasi setelah melihat evaluasi laporan kuartalan portofolio.
Dari situ, mereka bisa menilai apakah susunan aset saat ini sudah menghasilkan keuntungan sesuai target atau belum.
Jika performanya dianggap kurang maksimal, manajer investasi atau perusahaan bisa melakukan penyesuaian untuk memperbaiki tampilannya.
Baca juga: Mengenal Suku Bunga The Fed dan Pengaruhnya, Investor Wajib Tahu
Misalnya dengan membeli saham atau aset unggulan yang sedang berkinerja positif agar portofolio terlihat lebih solid.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Investopedia