Ilustrasi Investasi Saham Blue Chip. (Freepik)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih, kamu tiba-tiba bengong kepikiran gimana nasib kamu di usia enam puluh lima tahun nanti?
Bayangin tubuh sudah nggak sekuat sekarang, penyakit mulai datang satu per satu, eh tapi tabungan malah menipis.
Pilihan pahitnya cuma satu yaitu, harus bergantung sama anak yang hidupnya sendiri mungkin lagi terjepit biaya hidup.
Inilah mimpi buruk yang diam-diam menghantui banyak orang Indonesia, terutama kita yang terjebak dalam generasi sandwich.
Selama puluhan tahun kita selalu dicekoki nasihat kuno, kalau menabung adalah pangkal kaya.
Padahal, musuh utama uang kita hari ini bukan malas kerja, tapi inflasi yang nggak pernah tidur.
Menyimpan uang di bawah bantal atau sekadar di rekening biasa, emang aman dari pencuri, tapi sayangnya nggak aman dari waktu yang terus menggerus nilainya.
Baca juga: Delisting Saham dan Risikonya, Investor Jangan Cuma Fokus Cuan
Masalah utama kebanyakan dari kita sebenarnya bukan nggak bisa cari uang. Kita ini pekerja keras dan tahan banting, tapi kita sering lupa atau nggak pernah diajari cara mengamankan hasil keringat itu supaya tetap bernilai pas kita sudah nggak produktif lagi.
Ada perbedaan yang sangat besar antara sekadar menyimpan uang dengan membeli bisnis.
Menyimpan uang itu cuma memindahkan tenaga kita ke dalam bentuk kertas. Sedangkan membeli bisnis artinya, membuat uang itu bekerja kembali buat kita.
Strategi yang paling masuk akal adalah mencari cara yang risikonya rendah. Bukan berarti tanpa risiko sama sekali ya, tapi memilih risiko yang jauh lebih kecil daripada risiko jadi tua dalam kondisi miskin.
Ini bukan soal judi atau pengen kaya semalam, tapi soal strategi bertahan hidup finansial jangka panjang.
Berdasarkan penjelasan mendalam di kanal YouTube/KUNCI KAYA, kalau kamu bingung apa itu Saham Blue Chip, bayangin saja kamu bareng-bareng sama orang lain patungan beli sebuah minimarket yang paling ramai di kotamu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube