Sumber Utama Penambahan Devisa Negara Berasal dari Perjuangan Pahlawan yang Nyata, Siapakah Mereka?
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih, pas kamu lagi asyik deep talk atau sekadar gabut nongkrong di kafe sambil nyruput kopi susu kekinian, tiba-tiba kepikiran dari mana sih negara kita dapet modal buat ngebangun fasilitas yang sekarang serba kece.
Mulai dari MRT atau LRT yang antiribet, sampai jalan tol panjang yang bikin agenda mudik atau road trip jadi lancar jaya.
Kebanyakan dari kita pasti refleks ngejawab kalau semua itu modalnya dari pajak yang kita bayar tiap bulan.
Jawaban itu emang bener. Tapi tahu nggak sih, kalau ada elemen penting lain dalam ekonomi makro yang perannya bener-bener sakti mandraguna.
Elemen ini namanya devisa, sebuah instrumen krusial yang ngejaga gengsi sekaligus kestabilan ekonomi kita di kancah internasional.
Dilansir dari Youtube/JuicyMango, ada fakta mind blowing yang wajib banget dipahami anak muda zaman sekarang soal peta keuangan negara kita.
Mereka adalah para pekerja yang berjuang di negeri orang, demi ngidupin keluarga sekaligus ngasih dampak masif buat kas negara.
Memahami dari mana instrumen ini berasal, bakal bikin kita melek kalau kontribusi ekonomi itu bentuknya bisa sekeren dan segede ini.
Baca juga: Rahasia Nomor Seri Uang yang Paling Dicari Kolektor dan Bisa Bikin Kamu Mendadak Sultan, Apa Saja?
Mengenal Konsep Tabungan Raksasa Milik Negara
Sebelum kita menyelam lebih dalam soal siapa sih aktor utama di balik perputaran uang ini, ada baiknya kita bedah dulu apa sih sebenarnya devisa itu.
Biar gampang dibayangin dan nggak ngebosenin kayak materi kuliah pagi, anggap aja devisa ini sebagai aset atau barang berharga yang sah dipakai buat transaksi internasional antarnegara.
Wujudnya bisa macem-macem, mulai dari emas murni, surat berharga tingkat dunia, sampai mata uang asing yang punya nilai tukar super kuat di pasar global alias hard currency.
Beberapa contoh mata uang sirkel elit ini antara lain Dolar AS, Yen Jepang, Poundsterling Inggris, Euro, sampai Dolar Kanada.
Nah, biar makin paham bedanya sama pendapatan negara biasa, kita pakai analogi yang relate sama kehidupan sehari-hari.
Pendapatan negara yang bersumber dari pajak itu ibaratnya kayak gaji bulanan yang kamu terima dari tempat kerja buat bayar kosan dan makan sehari-hari.
Sementara itu, devisa adalah jumlah total tabungan bersih atau isi brankas yang kamu punya.
Di Indonesia sendiri, pihak yang bertugas buat mantau, ngawasi, dan nyatet keluar masuknya aliran dana raksasa ini adalah Bank Indonesia selaku bank sentral.
Jadi, setiap kali ada aktivitas ekspor-impor atau aliran dana masuk, BI bakal langsung nyatet itu sebagai penambah kekayaan negara.
Aktor Utama di Balik Aliran Dana Asing
Sekarang saatnya kita kenalan sama sosok yang punya peran magis dalam ngaliririn mata uang asing ke dalam negeri.
Dulu kita sering banget denger istilah Tenaga Kerja Indonesia alias TKI yang disematkan ke mereka yang kerja di luar negeri.
Tapi buat kamu anak skena yang mau tetep update, perlu tahu nih kalau istilah resminya sekarang udah ganti jadi Pekerja Migran Indonesia alias PMI.
Pergantian nama ini bukan sekadar flexing istilah baru ya, tapi ngebawa respect yang lebih tinggi atas profesi dan perjuangan mereka.
Hubungan antara para pekerja migran ini sama penambahan tabungan negara emang seerat itu dan berjalan secara organik.
Ketika mereka kerja di berbagai sektor di negara penempatan, mereka otomatis digaji pakai mata uang asing setempat.
Menariknya, para pekerja ini nggak ngehabisin semua uangnya di sana buat foya-foya. Mereka bakal nyisihin sebagian besar pendapatan mereka buat dikirim balik ke kampung halaman demi keperluan keluarga, biaya sekolah adek, atau modal usaha di desa.
Proses kirim uang lintas negara ini dalam dunia keuangan dikenal dengan istilah remitansi.
Sebagian lagi ada juga yang milih buat nabung rapat-rapat, terus dibawa pulang sekeranjang uang asing tersebut pas momen mudik lebaran atau pas kontrak kerja mereka udah kelar.
Efek Domino yang Bikin Mata Uang Rupiah Makin Perkasa
Fenomena kirim-mengirim uang dari luar negeri ini ternyata memicu sebuah efek domino ekonomi yang untungnya gede banget buat stabilitas finansial dalam negeri.
Bayangin aja, ketika para pekerja migran mau ngirim uang hasil keringatnya ke keluarga di Indonesia, uang asing tersebut jelas nggak bisa langsung dipakai jajan seblak atau belanja di minimarket lokal.
Uang tersebut harus dikonversi atau ditukerin dulu ke mata uang Rupiah.
Secara nggak langsung, aktivitas penukaran uang berskala masif ini bisa diartikan kalau para pekerja migran lagi beramai-ramai ngeborong mata uang Rupiah pakai mata uang asing.
Hukum ekonomi pasar yang paling dasar pun berlaku di sini. Ketika demand atau permintaan terhadap Rupiah melonjak tajam karena dibeli dalam jumlah yang gila-gilaan, nilai tukar mata uang Rupiah kita otomatis bakal bergerak menguat dan jadi makin perkasa di hadapan mata uang asing lainnya.
Jadi, perjuangan mereka di luar negeri itu nggak cuma nyelametin dapur keluarga di rumah aja, tapi juga ikut ngelindungin dompet kita semua dari risiko anjloknya nilai tukar mata uang nasional.
Simulasi Angka Fantastis yang Setara Fasilitas Publik Megah
Mungkin sebagian dari kamu ada yang mbatin dan penasaran, seberapa gede sih sumbangsih nyata dari para pekerja migran ini sampai efeknya bisa sesakti itu.
Berdasarkan data resmi yang dirilis Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia alias BP2MI, jumlah pahlawan kita yang tersebar di berbagai belahan dunia saat ini diperkirakan nembus angka 9 juta orang.
Suatu angka komunitas yang super masif dan solid banget.
Mari kita coba lakukan simulasi perhitungan matematika simpel tanpa perlu rumus ribet. Katakanlah dari 9 juta orang tersebut, masing-masing pekerja konsisten ngirim uang minimal Rp1 juta per bulan ke Indonesia.
Itu artinya, dalam jangka waktu satu tahun, satu orang pekerja udah menyumbang dana sebesar Rp12 juta.
Sekarang coba kalikan angka Rp12 juta itu sama total 9 juta pekerja yang ada.
Hasil akhirnya bener-bener bikin melongo, yaitu menyentuh angka seratus delapan triliun rupiah dalam setahun.
Angka fantastis yang susah dibayangin kalau cuma dilihat dalam bentuk tumpukan duit cash.
Biar makin dapet pencerahan betapa mewahnya nominal seratus delapan triliun itu, dana tersebut kalau dialokasikan ke pembangunan infrastruktur dalam negeri bakal setara dengan biaya buat ngebangun sembilan ratus kilometer jalan tol baru.
Nggak cuma itu, dana tersebut juga sanggup mendanai pembuatan 22.500 jembatan gantung di daerah pelosok, atau setara dengan 31 kali lipat dari total anggaran yang dipakai buat ngebangun Wisma Atlet.
Bahkan, kalau dipakai buat ngebangun sarana transportasi modern, jumlah uang tersebut bisa dipakai buat mendanai tiga kali proyek pembangunan MRT secara utuh.
Sebuah kontribusi konkret yang bener-bener nyata dan langsung berdampak ke fasilitas publik yang kita nikmati hari ini.
Apresiasi Tinggi Buat Sang Pahlawan Finansial Tanpa Tanda Jasa
Melihat dari segala pengorbanan, tetesan keringat, serta angka kontribusi riil yang nilainya nembus ratusan triliun rupiah tersebut, udah kewajiban kita buat ngasih respect yang setinggi-tingginya kepada para Pekerja Migran Indonesia.
Julukan sebagai pahlawan devisa yang disematkan ke mereka sejak zaman dulu tuh bukan hiperbola atau sekadar bumbu pemanis kata di media massa.
Julukan itu adalah sebuah pengakuan jujur atas peran vital mereka sebagai salah satu motor penggerak utama roda perekonomian bangsa.
Baca juga: Mengenal Redenominasi Rupiah: Penyederhanaan Angka Uang yang Sering Disalahpahami
Mengetahui info berharga ini udah sepatutnya bikin kita sebagai generasi muda jadi punya POV baru yang lebih empati dan menghargai profesi para pekerja migran.
Mereka adalah pahlawan nyata yang berjuang di garda depan finansial, bertaruh rindu sama keluarga, dan beradaptasi sama culture asing demi masa depan yang lebih baik sekaligus ikut serta ngebangun fondasi ekonomi negara kita tercinta.
Semoga ke depannya ekosistem perlindungan dan regulasi buat para pekerja migran ini makin gacor, biar mereka bisa kerja dengan rasa aman, nyaman, dan terus bawa pulang kebanggaan serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube