Dana Rp200 Triliun Dialihkan ke 5 Bank Himbara, CEO Danantara Sebut Bisa Perkuat Perbankan
INDOZONE.ID - Rosan Roeslani, CEO Danantara, menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang mengatakan bahwa bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kelimpungan ketika pemerintah memindahkan kas negara sebesar Rp200 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank Himbara.
Menkeu menyebutkan bahwa bank-bank Himbara hanya mampu menyerap Rp7 triliun. Menurut Rosan, perbedaan kemampuan antar bank dalam menyalurkan kredit dan menyerap dana adalah hal yang normal.
Meskipun demikian, ia memandang langkah pemerintah tersebut sebagai kebijakan yang positif karena dapat memperkuat likuiditas di sektor perbankan.
Baca juga: Menkeu Purbaya Optimistis Injeksi Dana Rp200 Triliun ke Himbara Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
"Ini positif, karena ini juga memberikan keleluasaan likuiditas di pihak perbankan," ujar Rosan usai menghadiri acara Pertemuan dan Simposium Gotong Royong Perumahan Warisan Bangsa di Jakarta, dikutip dari ANTARA, Rabu (17/9/2025).
Dana sebesar Rp200 triliun itu sudah dialokasikan sejak Jumat (12/9/2025) kepada lima bank Himbara: BRI, BNI, Mandiri, BTN dan BSI.
Pemerintah menyimpan masing-masing Rp55 triliun di BRI, BNI dan Mandiri, Rp25 triliun di BTN, dan Rp10 triliun di BSI.
Dana ini berasal dari kas negara yang sebelumnya mengendap di Bank Indonesia dan kini dialihkan untuk memperkuat likuiditas perbankan.
Menurut Rosan, tambahan likuiditas yang diperoleh bank memberikan peluang lebih luas untuk menyalurkan pembiayaan dengan tingkat bunga yang lebih kompetitif, yang diharapkan dapat membawa manfaat signifikan, khususnya bagi sektor swasta.
"Dengan suku bunga yang lebih kompetitif ini tentunya akan membantu semua sektor lainnya, terutama sektor swasta, dan bisa merasakan dampaknya," ujar dia.
Rosan juga menekankan pentingnya peningkatan peredaran uang dalam perekonomian nasional.
Baca juga: Sri Mulyani Dicopot dari Menteri Keuangan, Rupiah Langsung Tertekan
Rosan membeberkan bahwa berdasarkan data jumlah uang beredar (M1 dan M2), kecepatan perputaran uang atau velocity of money di Indonesia kini berada pada kisaran 41–42 persen.
Dia menilai bahwa angka ini masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan banyak negara lain, yang uang beredarnya bisa bergerak lebih cepat dan mencapai di atas 100 persen.
"Kalau kita ingin pertumbuhan lebih tinggi, (peredaran) uangnya perlu lebih tinggi. Ini adalah satu cara konkret nyata oleh pemerintah dalam rangka membuat peredaran dana ini makin cepat, agar pertumbuhan kita makin meningkat," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA