INDOZONE.ID - Pakar transisi energi dari Institut Teknologi Bandung, Retno Gumilang Dewi, menilai penerapan biodiesel B50 atau bahan bakar campuran 50 persen minyak sawit, dapat menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Menurut Retno, pemanfaatan energi berbasis sumber daya domestik menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
“Aspek yang akan menjadikan pasokan energi kita stabil adalah memanfaatkan kekayaan milik kita sendiri. Dengan begitu, Indonesia tidak akan terlalu terdampak oleh krisis geopolitik global,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (24/5/2026).
Ketahanan Energi Jadi Fokus Utama
Retno menjelaskan bahwa isu energi saat ini tidak lagi hanya berkaitan dengan pasokan dan kebutuhan konsumsi, tetapi juga erat kaitannya dengan dinamika geopolitik dunia.
Kondisi tersebut membuat banyak negara berlomba memperkuat ketahanan energinya masing-masing agar tidak terlalu bergantung pada impor energi dari negara lain.
Baca juga: Impor Energi dari Rusia Didukung, Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan
Karena itu, Indonesia dinilai perlu mempercepat pengembangan energi berbasis sumber daya dalam negeri, termasuk biodiesel berbahan baku kelapa sawit.
Menurut Retno, implementasi biodiesel dari B40 menuju B50 menjadi salah satu langkah realistis dalam memperkuat diversifikasi energi nasional sekaligus menjaga keamanan pasokan energi dalam jangka panjang.
Peta Jalan Transisi Energi Indonesia 2025–2060
Retno juga memaparkan tahapan transisi energi Indonesia menuju target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Tahap pertama berlangsung pada periode 2025–2030 dengan fokus pada penguatan ketahanan energi nasional sebelum memasuki fase dekarbonisasi yang lebih besar.
Pada tahap tersebut, pemerintah dinilai perlu mempercepat diversifikasi energi melalui pemanfaatan gas domestik, co-firing biomassa di PLTU, implementasi biodiesel B40 menuju B50, pengembangan bioetanol, hingga peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan.
Tahap kedua pada periode 2030–2040 difokuskan pada percepatan pengembangan energi bersih seperti energi surya, hidro, dan panas bumi. Selain itu, elektrifikasi sektor transportasi dan industri juga menjadi prioritas utama.
Sementara tahap ketiga pada 2040–2060 diarahkan pada dekarbonisasi mendalam melalui pengurangan penggunaan batu bara secara bertahap serta pengembangan energi masa depan seperti hidrogen, amonia, nuklir, hingga teknologi CCS dan CCUS.
Transisi Energi Harus Bertahap
Retno menegaskan bahwa transisi energi nasional tidak bisa dilakukan secara mendadak karena energi fosil masih memegang peranan penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Baca juga: Ketahanan Energi Indonesia Diakui Dunia, Didukung Produksi Migas hingga Energi Terbarukan
“Kalau perpindahan energi dilakukan secara tiba-tiba, dampaknya akan besar terhadap ekonomi dan masyarakat. Karena itu, transisi energi harus dilakukan secara bertahap dengan tetap mengutamakan ketahanan energi,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar dalam proses transisi energi Indonesia saat ini berada di sektor transportasi yang masih menjadi konsumen bahan bakar minyak terbesar di dalam negeri.
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM, pemerintah dinilai perlu memperkuat pengembangan kendaraan listrik, penggunaan gas untuk transportasi massal, serta pengembangan bahan bakar rendah emisi secara bertahap.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, implementasi biodiesel B50 dinilai dapat menjadi bagian penting dalam strategi Indonesia menuju kemandirian energi sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA