Kamis, 21 MEI 2026 • 20:29 WIB

Industri Buku Indonesia di Tengah Perubahan Zaman: Antara Tren Baru dan Tantangan Pembajakan

Author

Ilustrasi industri buku di Indonesia (Freepik)

INDOZONE.ID - Industri buku di Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Cara pembaca menemukan buku, tren genre yang digemari, hingga tantangan pembajakan kini berubah jauh dibanding satu dekade lalu.

Di tengah transformasi itu, para pelaku industri literasi mulai dari penerbit hingga penulis mencoba bertahan sambil mencari bentuk baru agar buku tetap relevan di era digital.

Pemimpin Redaksi Penerbit Haru Andry Setiawan melihat perubahan terbesar terjadi pada perilaku pembaca yang kini semakin aktif di media sosial. Menurutnya, jalur distribusi dan promosi buku saat ini tidak lagi bergantung pada toko buku fisik semata.

“Kalau dari pengalaman kami di Penerbit Haru, perkembangan yang paling terasa adalah pembaca sekarang jauh lebih aktif di media sosial. Cara orang menemukan, membicarakan, dan merekomendasikan buku juga berubah. Dulu penjualan buku sangat bergantung pada toko buku fisik, sementara sekarang jalurnya lebih banyak: ada toko online, marketplace, media sosial, komunitas jastip, sampai konten kreator,” ujarnya saat dihubungi INDOZONE.

Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana industri buku kini semakin dekat dengan budaya digital. Media sosial tidak hanya menjadi tempat promosi, tetapi juga ruang diskusi yang memengaruhi tren bacaan masyarakat.

Baca juga: Industri Bisnis Buku Indonesia Makin Lesu, Ini Penyebab dan Dampaknya ke Penulis!

Andry mengaku selama sekitar 15 tahun menjalankan penerbitan, industri buku selalu berada dalam fase perubahan yang menantang. Namun, menurutnya, kunci bertahan adalah fokus pada kualitas cerita dan memahami pembaca.

“Bagi kami, dunia buku sekarang menarik sekali. Tentu kami belum bisa melihat industri ini secara keseluruhan karena pengalaman kami baru sekitar 15 tahun, tetapi dari yang kami jalani, industri buku selalu berubah dan menantang. Karena itu, kami mencoba fokus pada hal-hal yang memang bisa kami kerjakan dengan baik: memilih cerita yang bagus, mengemasnya sebaik mungkin, dan mempertemukannya dengan pembaca,” katanya.

Tren Buku Bergeser

Perubahan juga terlihat dari selera pembaca Indonesia yang terus berganti dari waktu ke waktu. Jika dulu novel romance lokal menjadi primadona, kini genre misteri dan horor mulai mendominasi pasar.

Menurut Andry, pergeseran tren itu terjadi secara bertahap. Pembaca sempat menyukai romance Korea, buku nonfiksi ringan asal Korea Selatan, hingga buku bertema kesehatan mental. Namun belakangan, karya misteri Jepang dan novel thriller lokal justru mendapat perhatian besar.

Baca juga: Tak Hanya Bisnis, Founder BrainBoost Juga Peduli Literasi Anak: Donasi Buku ke Sekolah Pemulung Manggarai

“Saat ini, yang terasa cukup kuat adalah terjemahan Jepang, terutama misteri dan horor, serta karya penulis lokal dengan genre misteri. Sepertinya pembaca sedang mencari bacaan yang bisa memberi pengalaman berbeda: cerita yang seru, unik, menegangkan, dan tidak mudah ditemukan di buku-buku lain,” jelasnya.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa pembaca Indonesia mulai mencari pengalaman membaca yang lebih emosional dan intens, bukan sekadar hiburan ringan.

Pembajakan Buku Masih Jadi Ancaman Besar

Di balik pertumbuhan minat baca dan berkembangnya genre baru, industri buku Indonesia masih menghadapi masalah klasik yang belum terselesaikan, yakni pembajakan buku.

Penulis fiksi kriminal Indonesia Ade Agustian atau yang dikenal dengan nama pena Tsugaeda menilai pembajakan buku di Indonesia sudah berada pada tahap yang mengkhawatirkan.

“Isu pembajakan buku di Indonesia dah parah sih, karena udah jadi industri sendiri. Penulis sangat dirugikan. Yang terbitan resmi misalnya laku 100, yang ngebajak bisa laku 1000. Mereka bisa jual murah bukan karena lebih efisien dalam berbisnis, tapi karena menjual barang curian tanpa modal, kecuali modal nyetak doang,” katanya.

Ia juga mempertanyakan dampak nyata dari pajak yang dibayarkan penulis kepada negara terhadap perlindungan hak cipta buku di Indonesia.

“Semua penulis saya yakin mempertanyakan pajak yang sudah disetor ke negara itu mana dampaknya ke upaya negara mengatasi pembajakan buku? Kayaknya gak ada,” lanjut Tsugaeda.

Hal senada diungkapkan penulis novel thriller Indonesia Ruwi Meita. Menurutnya, pembajakan buku sangat sulit diberantas karena pelakunya terus bermunculan.

Ilustrasi pembeli buku di toko buku

Baca juga: Gen Z Perlu Dibekali Literasi Digital Soal Risiko Keuangan: Waspada Pinjol Ilegal dan Fraud Keuangan

“Pembajakan buku susah untuk dihilangkan. Hilang satu tumbuh seribu. Pemerintah sebenarnya harus memberikan UU yang lebih tegas untuk pembajakan. Bagi penulis yang sudah mendapat royalti sedikit rasanya kecewa sekali. Buku laris tetapi dia tidak mendapat haknya. Namun, sayangnya penulis di pihak yang tidak berdaya. Ya, akhirnya hanya bisa diam saja karena melaprkan satu demi satu juga sudah melelahkan,” ujar Ruwi Meita.

Masalah pembajakan memang menjadi salah satu isu serius dalam industri kreatif Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI, pelanggaran hak cipta masih menjadi tantangan besar di era digital karena penyebaran konten ilegal semakin mudah dilakukan melalui marketplace dan media sosial.

Kajian mengenai pembajakan buku digital juga pernah dibahas dalam jurnal Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan Universitas Padjadjaran yang menyoroti lemahnya perlindungan hak cipta terhadap karya literasi di Indonesia.

Persaingan Penerbit dan Perburuan Lisensi Asing

Selain pembajakan, tantangan lain yang dihadapi penerbit adalah persaingan mendapatkan lisensi buku asing. Andry mengungkapkan bahwa perebutan hak terbit naskah luar negeri kini semakin kompetitif.

“Yang justru terasa sangat menantang dan menarik adalah tarik-ulur dengan penerbit kompetitor, terutama dalam hal lisensi naskah asing. Ketika kami ingin menerbitkan sebuah naskah dari luar negeri, kadang kami harus bersaing dengan penerbit lain, termasuk penerbit yang lebih besar. Tantangannya bukan hanya soal kemampuan akuisisi, tetapi juga upaya untuk menunjukkan bahwa Haru punya visi, pembaca, dan cara merawat sebuah buku,” jelasnya.

Baca juga: Industri MICE Indonesia Melesat di 2026, Pertumbuhan Diproyeksi Tembus 15 Persen

Menurutnya, penerbit tidak hanya menjual buku, tetapi juga harus mampu membangun identitas dan hubungan emosional dengan pembaca.

Penulis Lokal Dinilai Punya Potensi Besar

Meski industri buku menghadapi berbagai tantangan, Andry optimistis terhadap masa depan penulis Indonesia. Ia melihat banyak penulis lokal sedang berada dalam fase eksplorasi kreatif yang menarik.

“Saya melihat para penulis Indonesia di Haru sedang berada dalam proses eksplorasi yang menarik. Banyak dari mereka berangkat dari posisi sebagai pembaca, terutama pembaca naskah-naskah terjemahan asing. Mereka belajar secara otodidak, menyerap banyak gaya bercerita, lalu sedang mencoba menemukan suara mereka sendiri,” katanya.

Ia percaya konteks lokal menjadi kekuatan utama penulis Indonesia karena mampu menghadirkan cerita yang dekat dengan pengalaman pembaca.

“Kami percaya penulis Indonesia punya potensi, justru karena konteks cerita mereka dekat dengan pembaca, ada konteks lokal yang bisa terasa sangat khas,” tambahnya.

Ilustrasi pembeli buku di Tanah Air (Freepik)

Harapan Industri Buku Indonesia

Di tengah tantangan pembajakan, kenaikan biaya produksi, hingga perubahan perilaku pasar, harapan terbesar industri buku Indonesia tetap kembali pada pembaca.

“Harapan saya sederhana: semoga pemerintah bisa memberi dukungan yang lebih besar kepada pembaca buku. Bagi penerbit, pembaca adalah alasan kami bisa terus hidup. Jadi kalau akses pembaca terhadap buku dijaga dan diperluas, industri buku juga akan ikut bertahan,” tutup Andry.

Dukungan terhadap ekosistem literasi juga menjadi perhatian berbagai lembaga internasional. Organisasi UNESCO dalam berbagai laporannya menekankan pentingnya akses buku dan budaya membaca sebagai fondasi pembangunan masyarakat berbasis pengetahuan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Wawancara

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU