Ilustrasi industri buku di Indonesia (Freepik)
INDOZONE.ID - Industri buku di Indonesia terus bergerak mengikuti perubahan zaman. Cara pembaca menemukan buku, tren genre yang digemari, hingga tantangan pembajakan kini berubah jauh dibanding satu dekade lalu.
Di tengah transformasi itu, para pelaku industri literasi mulai dari penerbit hingga penulis mencoba bertahan sambil mencari bentuk baru agar buku tetap relevan di era digital.
Pemimpin Redaksi Penerbit Haru Andry Setiawan melihat perubahan terbesar terjadi pada perilaku pembaca yang kini semakin aktif di media sosial. Menurutnya, jalur distribusi dan promosi buku saat ini tidak lagi bergantung pada toko buku fisik semata.
“Kalau dari pengalaman kami di Penerbit Haru, perkembangan yang paling terasa adalah pembaca sekarang jauh lebih aktif di media sosial. Cara orang menemukan, membicarakan, dan merekomendasikan buku juga berubah. Dulu penjualan buku sangat bergantung pada toko buku fisik, sementara sekarang jalurnya lebih banyak: ada toko online, marketplace, media sosial, komunitas jastip, sampai konten kreator,” ujarnya saat dihubungi INDOZONE.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana industri buku kini semakin dekat dengan budaya digital. Media sosial tidak hanya menjadi tempat promosi, tetapi juga ruang diskusi yang memengaruhi tren bacaan masyarakat.
Baca juga: Industri Bisnis Buku Indonesia Makin Lesu, Ini Penyebab dan Dampaknya ke Penulis!
Andry mengaku selama sekitar 15 tahun menjalankan penerbitan, industri buku selalu berada dalam fase perubahan yang menantang. Namun, menurutnya, kunci bertahan adalah fokus pada kualitas cerita dan memahami pembaca.
“Bagi kami, dunia buku sekarang menarik sekali. Tentu kami belum bisa melihat industri ini secara keseluruhan karena pengalaman kami baru sekitar 15 tahun, tetapi dari yang kami jalani, industri buku selalu berubah dan menantang. Karena itu, kami mencoba fokus pada hal-hal yang memang bisa kami kerjakan dengan baik: memilih cerita yang bagus, mengemasnya sebaik mungkin, dan mempertemukannya dengan pembaca,” katanya.
Perubahan juga terlihat dari selera pembaca Indonesia yang terus berganti dari waktu ke waktu. Jika dulu novel romance lokal menjadi primadona, kini genre misteri dan horor mulai mendominasi pasar.
Menurut Andry, pergeseran tren itu terjadi secara bertahap. Pembaca sempat menyukai romance Korea, buku nonfiksi ringan asal Korea Selatan, hingga buku bertema kesehatan mental. Namun belakangan, karya misteri Jepang dan novel thriller lokal justru mendapat perhatian besar.
“Saat ini, yang terasa cukup kuat adalah terjemahan Jepang, terutama misteri dan horor, serta karya penulis lokal dengan genre misteri. Sepertinya pembaca sedang mencari bacaan yang bisa memberi pengalaman berbeda: cerita yang seru, unik, menegangkan, dan tidak mudah ditemukan di buku-buku lain,” jelasnya.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa pembaca Indonesia mulai mencari pengalaman membaca yang lebih emosional dan intens, bukan sekadar hiburan ringan.
Di balik pertumbuhan minat baca dan berkembangnya genre baru, industri buku Indonesia masih menghadapi masalah klasik yang belum terselesaikan, yakni pembajakan buku.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara