Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 26 FEBRUARI 2026 • 19:40 WIB

Grab Buka-bukaan soal Ekosistem Platform Digital, Apa yang Dihasilkan?

Grab Buka-bukaan soal Ekosistem Platform Digital, Apa yang Dihasilkan?Chief Executive Officer, Grab Indonesia, Neneng Goenadi di Jakarta Pusat. (INDOZONE/Samsudhuha Wildansyah)

INDOZONE.ID - Grab Indonesia membuka data berkaitan dengan jumlah mitra sampai dengan kesejahteraan para mitranya. Hasilnya, banyak mitra yang sudah naik kelas dalam taraf ekonomi.

Hal itu dibeberkan oleh Chief Executive Officer Grab Indonesia, Neneng Goenadi dalam acara silaturahmi Ramadhan bersama Grab Indonesia di Roemah Kuliner, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (26/2/2026).

Neneng awalnya bercerita jika platform Grab sejatinya tidak hanya diisi oleh para mitra pengemudinya saja. Banyak sektor yang bekerja di luar dari mitra pengemudi.

"Kami selalu ingatkan tidak hanya pengemudi ojol atau taksi online saja sebenarnya,  cakupanya luas, ada konten kreator, penulis grafik desainer, MUA dan banyak lagi," buka Neneng.

Baca juga: Isu GoTo-Grab Gabung Makin Kencang, Ini Respons Santai dari Danantara

Dikatakannya jika Grab sendiri berbeda dengan sektor formal lainnya. Grab disebut lebih fleksibel.

"Grab ini memiliki karakteristik berbeda dari sektor formal. Pertama, fleksibilitas ini memungkinkan semua masyarakat bisa bergabung dengan cepat tanpa proses rekrutmen yang panjang," kata Neneng.

"Nah model ini seperti sering kita sudah bahas adalah model praktik bantalan sosial yang responsif terutama bagi masyarakat yang mencari alternatif penghasilan atau belum terserap di sektor formal," sambungnya.

Neneng kemudian membuka data terkait mitra di Grab. Dikatakannya, 50 persen mitra Grab berusia 36 tahun dan sebagian besar diatas 45 tahun dengan rentang pendidikan diselesaikan SMA sebanyak 69 persen dengan arti 31 persen sisanya berpendidikan di atas SMA.

"Berikutnya 182.5 ribu mitra pengemudi kami adalah perempuan. Jadi sudah cukup inklusif dan ada lebih dari 700 mitra pengemudi kami penyandang disabilitas. Kalau dilihat 50 persen atau satu dari dua mitra ojol Grab sebelumnya adalah korban PHK. Ini kami sebutkan Grab itu menjadi bantalan sosial buat 50 persen dari ojol kami," jelas Neneng.

Untuk Grabbike sendiri, Neneng mengungkap jika lebih dari 80 persen mitra mayoritas tidak mengandalkan Grab sebagai penghasilan utama, sedangkan Grabcar sebanyak 67 persen.

"Itu satu fleksibilitas yang diberikan oleh Grab dan untungnya dengan memanfaatkan teknologi," katanya.

Neneng kemudian membahas kemakmuran para mitranya. Hasilnya, tercatat ada banyak mitra yang mendapat penghasilan besar bahkan diatas 10 juta perbulan.

"Ada namanya Pak Suyanto bergabung 9 Juli 2015, status menikah. Setiap hari dapat penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari, cicil rumah di Cirebon, punya modal usaha laundry istri di rumah, penghasilan sampai Rp 10 juta perbulan," kata Neneng.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Grab Buka-bukaan soal Ekosistem Platform Digital, Apa yang Dihasilkan?

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!