INDOZONE.ID - Harga BBM jenis Pertamax belum turun di tengah penurunan harga BBM nonsubsidi lainnya. Sejumlah pakar membongkar penyebab BBM pertamax belum kunjung turun.
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti, menilai keputusan dipertahankannya harga pertamax merupakan bagian strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini diterapkan Pertamina.
"Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp16.250 pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada dibawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi," kata Yayan seperti dikutip pada Jumat (3/7/2026).
"Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax bukan langsung menurunkannya," sambungnya.
Baca juga: Biodiesel B50 Jadi Langkah Baru Pemerintah Kurangi Impor BBM dan Emisi Karbon
Dikatakannya, harga BBM nonsubsidi tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.
Menurutnya, jika Pertamax langsung diturunkan manfaat utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan. Sebaliknya, apabila harga dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin Pertamina sedangkan beban subsidi pemerintah terhadap pertalite dan solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.
"Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar −0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen jika ditahan dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan ke pemulihan margin Pertamina," kata dia.
Pakar kebijakan publik Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Kristian Widya Wicaksono, juga menilai keputusan pemerintah belum menurunkan harga pertamax saat ini, masih dapat dibenarkan.
"Harga BBM tidak hanya ditentukan oleh harga minyak mentah dunia pada hari tertentu. Pemerintah dan badan usaha juga memperhitungkan harga rata-rata dalam periode tertentu, nilai tukar rupiah, biaya pengolahan, biaya distribusi, pajak, hingga cadangan untuk mengantisipasi gejolak pasar. Karena itu, penurunan harga minyak dunia tidak selalu harus langsung diikuti dengan penurunan harga jual di dalam negeri," ujar Kristian.
Menurutnya, BBM nonsubsidi pertamax tidak wajib mengalami penyesuaian harga setiap kali harga minyak dunia bergerak turun.
"Apabila hasil perhitungan menunjukkan harga yang berlaku masih mencerminkan biaya penyediaannya, maka mempertahankan harga bukan merupakan pelanggaran terhadap prinsip pasar, namun apabila biaya penyediaan sudah turun secara nyata tetapi harga tetap dipertahankan, pemerintah dan badan usaha perlu memberikan penjelasan yang transparan agar tidak menimbulkan persepsi bahwa konsumen menanggung beban yang tidak semestinya," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan