Kamis, 28 MEI 2026 • 12:50 WIB

Benarkah Rupiah Melemah Tak Berdampak pada Warga Desa? Simak Penjelasannya

Author

Ilustrasi dampak nilai rupiah melemah Melemah pada warga desa. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Pelemahan nilai tukar rupiah sering dianggap hanya berdampak pada masyarakat perkotaan atau mereka yang berhubungan langsung dengan dolar AS.

Namun kenyataannya, warga desa juga bisa merasakan efeknya, meski tidak melakukan transaksi menggunakan mata uang asing. 

Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut masyarakat desa tidak terlalu terdampak karena tidak memakai dolar AS sempat menjadi sorotan publik. 

Meski demikian, sejumlah ekonom menilai pengaruh pelemahan rupiah sebenarnya dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui jalur yang lebih luas. 

Baca juga: Menkeu Tegaskan Pelemahan Rupiah saat Ini Berbeda dengan Krisis 1998

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menjelaskan bahwa dalam sistem ekonomi modern, dampak kurs tidak bekerja secara langsung lewat kepemilikan dolar, melainkan melalui rantai distribusi dan biaya produksi.

Menurutnya, banyak kebutuhan masyarakat desa yang tetap berkaitan dengan barang impor atau bahan baku dari luar negeri.

Ketika rupiah melemah, biaya impor naik dan akhirnya memengaruhi harga barang di pasaran. 

Contohnya terlihat pada sektor pertanian dan peternakan. Pupuk urea maupun NPK masih menggunakan bahan baku impor, sementara pakan ternak bergantung pada jagung serta bungkil kedelai dari luar negeri. Kondisi ini membuat biaya produksi petani dan peternak berpotensi ikut meningkat.

Selain itu, harga bahan bakar dan energi juga bisa terdorong akibat pengaruh global dan nilai tukar rupiah. Begitu pula obat-obatan generik yang banyak memakai bahan baku dari India dan China dengan transaksi dolar AS.

Dampak lainnya dapat terlihat dari kenaikan harga pangan. Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas seperti kedelai, gandum, dan gula. Akibatnya, saat rupiah melemah, harga tahu, tempe, tepung terigu, hingga mi instan berpotensi ikut naik.

Kenaikan harga tersebut dinilai lebih berat dirasakan masyarakat desa karena sebagian besar pengeluaran rumah tangga digunakan untuk kebutuhan pokok. Ketika harga pangan dan energi naik, kemampuan masyarakat untuk menabung atau memenuhi kebutuhan lain menjadi semakin terbatas.

Yusuf menilai kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, termasuk petani kecil, merupakan pihak yang paling rentan terkena dampak pelemahan rupiah. Sebab, mereka harus menghadapi biaya produksi yang naik di tengah daya beli yang menurun.

Baca juga: 5 Manfaat Menabung Valuta Asing saat Rupiah Melemah

Ia bahkan memperkirakan pelemahan rupiah sebesar 10 persen dapat menekan daya beli rumah tangga sekitar 3 hingga 5 persen dalam beberapa bulan.

Meski efeknya tidak selalu langsung terlihat, dampak pelemahan rupiah bisa muncul perlahan melalui kenaikan harga barang di pasar tradisional, meningkatnya biaya distribusi, hingga bertambah beratnya beban subsidi pemerintah.

Karena itu, pelemahan rupiah bukan hanya isu yang dirasakan pelaku impor atau masyarakat kota. Warga desa pun tetap bisa terkena dampaknya melalui kebutuhan sehari-hari yang terhubung dengan rantai ekonomi nasional dan global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Pajakku

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU