Sabtu, 18 APRIL 2026 • 13:00 WIB

Aksi Global di 20 Negara Desak World Bank Hentikan Dana untuk Peternakan Intensif

Author

Aksi di depan kantor World Bank Jakarta yang diikuti oleh Act for Farmed Animals (AFFA) bersama koalisi Stop Financing Factory Farming (S3F). (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Aksi serentak digelar di 20 negara untuk mendesak World Bank menghentikan pendanaan ke industri peternakan intensif.

Di Indonesia, aksi ini berlangsung di depan kantor World Bank Jakarta dan diikuti oleh Act for Farmed Animals (AFFA) bersama koalisi Stop Financing Factory Farming (S3F).

Mereka menyoroti rencana peningkatan dana hingga US$9 miliar atau sekitar Rp140 triliun per tahun pada 2030 untuk sektor peternakan intensif. Menurut para aktivis, langkah ini justru bisa membuat krisis iklim semakin parah dan lingkungan semakin rusak.

Baca juga: Impor Energi dari Rusia Didukung, Dinilai Bisa Kurangi Ketergantungan

Dalam aksi tersebut, massa membawa instalasi hewan ternak sebagai simbol dampak dari sistem peternakan intensif.

AFFA menilai, jika World Bank terus menggelontorkan dana ke industri ini, artinya ikut memperbesar masalah lingkungan yang sudah terjadi sekarang.

“World Bank tidak menjalankan praktik prinsip keberlanjutan yang melindungi planet Bumi dan makhluk hidup lainnya. Dengan memperluas dan meningkatkan investasi pada industri peternakan intensif, sama saja mendanai percepatan krisis iklim, melanggengkan penderitaan yang kejam pada hewan, hilangnya keanekaragaman hayati dan mengancam kesehatan masyarakat secara global,”ujar Elfha Shavira, pemimpin kampanye Act for Farmed Animals.

Mereka berharap World Bank segera berhenti mendanai peternakan intensif dan beralih ke pendanaan yang memperhatikan kesejahteraan hewan serta keberlanjutan Bumi.

Sistem peternakan intensif atau Animal Feeding Operations (AFO) disebut jadi salah satu penyumbang pencemaran udara, terutama partikel halus PM2.5 yang berbahaya untuk kesehatan.

Baca juga: Sukuk PNM Tembus Panggung Dunia, Menang di The Asset Awards 2026 Hongkong

Bukan hanya itu, industri ini juga memakai lahan dalam jumlah besar. Sekitar 80 persen lahan pertanian global dipakai untuk kebutuhan peternakan, baik untuk penggembalaan maupun produksi pakan.

Produksi kedelai juga ikut terseret. Sekitar 77 persen kedelai dunia digunakan untuk pakan ternak, bukan buat konsumsi manusia.

Dampaknya untuk Indonesia

Koalisi menilai ketergantungan impor bungkil kedelai untuk pakan ternak bisa membuat ekonomi rentan, apalagi jika harga global naik. Dampaknya, harga pangan dalam negeri juga bisa ikut terdorong naik.

Selain itu, pembukaan hutan dan alih fungsi lahan untuk peternakan juga dianggap mengancam keanekaragaman hayati.

“Deforestasi adalah salah satu penyebab utama dari krisis iklim. Deforestasi yang masif untuk peternakan intensif dan pakan bukan hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga pada keadilan sosial. Secara global, dampaknya dirasakan oleh berbagai lapisan, termasuk masyarakat adat yang kehilangan ruang hidupnya saat kita dihadapkan pada krisis air dan cuaca ekstrem. Investasi sektor perbankan seharusnya diarahkan pada sistem pangan yang berkelanjutan, berketahanan iklim seperti pangan nabati yang berbasis lokal di Indonesia,” ujar Arie Utami, Managing Director Act for Farmed Animals.

Baca juga: Bukan Musuh Perusahaan, Menaker Jelaskan Fungsi Sebenarnya Serikat Pekerja

Melalui aksi ini, para peserta berharap World Bank mulai mengalihkan pendanaan ke sistem pangan yang lebih ramah lingkungan, berkelanjutan, dan nggak merugikan hewan maupun masyarakat.

Bagi banyak orang, urusan makanan bukan hanya soal produksi, tapi juga soal dampaknya ke bumi. Karena itu, arah investasi besar seperti ini dianggap penting untuk masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Press Release

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU