Jumat, 05 SEPTEMBER 2025 • 16:35 WIB

Diskusi Strategis SDM dalam Hadapi Transformasi Ekonomi di IHCBS 2025

Author

Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2025 diselenggarakan pada 2-3 September di ICE BSD City. (Dok. Istimewa)

INDOZONE.ID - Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2025 diselenggarakan pada 2-3 September di ICE BSD City.

Acara ini merupakan forum bagi para pemimpin dan praktisi di bidang sumber daya manusia (SDM) untuk membahas strategi persiapan tenaga kerja dalam menghadapi transformasi ekonomi.

Pada hari kedua, acara dibuka dengan diskusi tentang kepemimpinan di era AI yang dipimpin oleh David Tjokrorahardjo, President Maxwell Leadership Indonesia. Ia menekankan bahwa kehadiran AI adalah sebuah metamorfosis yang tak terhindari. 

Menurutnya, mengintegrasikan AI ke dalam proses kerja adalah pilihan strategis yang akan menentukan daya saing perusahaan di masa depan. David juga mengingatkan bahwa AI memiliki dua sisi: sebagai pendukung atau sebagai tantangan, tergantung pada cara kita memanfaatkannya.

Baca juga: Pasokan BBM Shell dan BP-AKR Menipis, Kementerian ESDM Dorong Kerja Sama dengan Pertamina

“AI itu ada dua sisi, membuka capacity dan challenging, bagaimana cara kita memandang AI untuk menyelesaikan masalah atau justru mengembangkan serta membantu membantu masalah.” ujarnya.

AI bukan hanya berfungsi sebagai pendukung, tetapi juga berpotensi mengeliminasi cara-cara lama yang sudah tidak relevan dalam menghadapi era transformasi digital.

Dalam sesi ini, Edward berbagai pandangannya tentang pertumbuhan pesat Kopi Kenangan serta peran tim dan budaya perusahaan dalam menjaga relevansi dengan generasi muda. Menurut Edward, budaya organisasi yang kuat harus berangkat dari tujuan yang jelas.

“Saya percaya di company manapun people butuh purpose. Akan sangat sulit menjadi people center kalau tidak ada purpose. Ambil purpose yang belum pernah dicapai sebelumnya, dan buat sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya,” ungkapnya.

Baca juga: Mengapa Bitcoin Dianggap Tahan Inflasi? Ini Penjelasannya

Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya memiliki pola pikir yang berorientasi pada tujuan besar. “Kita harus punya purpose jadi number one, kita harus berikutn leadership dalam sebuah company.” tegasnya. 

Dengan prinsip tersebut, Kopi Kenangan terus mendorong inovasi agar tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pelopor di industri yang semakin kompetitif.

Diskusi selanjutnya membahas tentang The Envolving Role of HR in The Digital Age oleh Hadjar Seri Adji, Vice Chairman FHCI. Dalam paparamya, Hadjar menekankan bahwa peran HR kini tidak lagi sekadar fungsi administratif, melainkan harus bertransformasi menjadi penggerak strategis perubahan bisnis.

Seiring dengan transisi menuju era Industry 5.0, HR dituntut untuk memimpin kolaborasi manusia dan mesin, sekaligus mendorong organisasi agar lebih lincah, adaptif, dan inovatif.

Special grand key note oleh Prof. Yassirlie, Menteri Kemenaker RI dengan tema People as Foundation for Indonesia Economic Transformation, turut memeriahkan acara IHCBS hari kedua ini.

Dalam pidatonya, Prof. Yassirlie menekankan bahwa isu ketenagakerjaan di Indonesia sangat kompleks, mulai dari amanah konstitusi untuk menjamin setiap warga negara memperoleh pekerjaan yang layak hingga tantangan global yang terus berkembang.

Beliau juga menyoroti pentingnya menggabungkan best practices internasional dengan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya manusia.

“Indonesia butuh next practices yang mengombinasikan best practices dengan nilai-nilai lokal agar pengelolaan human capital tidak hanya efektif, tetapi juga relevan,” jelasnya.

Lebih jauh, Prof. Yassirlie menegaskan bahwa diskursus tentang human capital harus semakin berorientasi pada manusia, dengan pendekatan people-centred sebagai fondasi transformasi ekonomi nasional.

CEO Talk Show hari kedua tentang Sustainable Business & People Transformation Practices in Indonesia’s Economic Transformation oleh Suwandi Wiratno, CEO CSUL Finance & Chairperson of APPI dan Dr. Muhammad Taufiq, Kepala Lembaga Administrasi Negara (LAN).

Dalam diskusi, Suwandi menyoroti bahwa kunci kolaborasi terletak pada komunikasi yang baik di semua lini organisasi. 

“Kita harus ada diskusi informal sebelum membahas transformasi. Perubahan tidak akan terjadi kalau kita tidak memahami bawahan kita. Kolaborasi akan terjadi jika komunikasi antar atasan dan bawahan berjalan dengan baik,” ungkapnya. 

Pesan ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh interaksi manusia yang saling memahami.

Sesi selanjutnya oleh dr. Andreas Kresna, Sp.Ok, HIMA, The Role of Occupational Medicine: Comprehensive Approach of Occupational Health and Safety. 

Diskusi ini membahas mengenai pemeliharaan dan peningkatan derajat kesehatan pekerja, mencegah dan mengatasi masalah kesehatan yang timbul akibat proses kerja atau produkci di lingkungan kerja dari sisi ilmu kedokteran.

Battle session IHCBS kali ini bertema Flexibility of Time and Place of Work oleh Yola Putryanie-Finance & Asset Management Director Kompas Gramedia Group, Theo Derick- Owner of Acrobyte Group & Creator, Artha Nadiny Siahaan- Head of Digital Marketing QuBisa.

Diskusi berfokus pada fenomena Work From Anywhere (WFA) yang kian popular di dunia kerja modern. Menurut Theo, fleksibilitas lahir sebagai kebutuhan baru organisasi. 

“WFA hadir karena adanya fleksibilitas,” ujarnya.

“Kami dalam perusahaan memegang kunci fleksibilitas, WFH memberi ruang bagi tim ketika menghadapi burnout. WFH tidak berlaku di semua industri, tapi fleksibilitas sesekali tetap dibutuhkan, dan kuncinya adalah komunikasi," lanjut Theo.

Yola menekankan bahwa fleksibilitas memang tak terhindarkan seiring perkembangan teknologi, namun penerapannya harus diesualkan dengan kebutuhan tiap fungsi di organisasi. 

“Di industri Gramedia, kita merasa WFO lebih produkty karena lebih mudah mengontrol, Fleksibilitas tidak bisa dihindari, namun ada beberapa fungsi yang lebih efektif saat bekerja di kantor.” jelasnya.

Menanggapi apakah fleksibilitas merupakan peluang atau ancaman, para pembicara sepakat melihatnya sebagai peluang jika dikelola dengan tepat. 

Yola menegaskan, “Tergantung kualitas leader, jika mampu mengelola dan membantu tim dengan baik, fleksibilitas tidak akan memengaruhi hasil kerja.”

Artha menilai fleksibilitas bisa meningkatkan produktivitas meski terkadang menimbulkan ekspektasi berlebih dari manajemen. Sementara itu, Theo mentutup dengan penekanan bahwa fleksibilitas adalah soal pola pikir.

“Apakah WFO, WFH, atau WFA lebih fleksibel? Jawahannya tidak. Fleksibilitas adalah sebuah mindset. Company yang bisa optimalkan teknologi adalah company yang adaptif dan sukses menghadapi perubahan,” jelas Artha.

IHCBS 2025 ditutup dengan penampilan special dari Yovie & Nuno yang turut memeriahkan acara, IHCBS 2025 ditutup dengan soft launcing IHCBS 2026 dengan tema Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next Level Productivity.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU