INDOZONE.ID - Kondisi pasar keuangan global maupun domestik sering kali menyuguhkan tren investasi yang tampak sangat menggiurkan dengan lonjakan harga yang fantastis.
Namun, di balik keuntungan besar yang berkelebat cepat tersebut, kamu harus waspada terhadap ancaman fenomena finansial yang dikenal dengan istilah bubble economy atau gelembung ekonomi.
Fenomena ini merupakan sebuah siklus di mana harga aset atau properti melonjak sangat tinggi dalam waktu singkat, tetapi nilainya bisa mendadak jatuh bebas alias meletus tanpa aba-aba.
Secara umum, badai finansial ini terbagi menjadi dua jenis utama yang sama-sama berbahaya bagi kestabilan dompet warga dan perekonomian suatu negara.
Baca juga: Harga BBM Non Subsidi Dinilai Tak Bisa Langsung Turun Meski Harga Minyak Dunia Turun
Jenis pertama adalah gelembung aset atau investasi, yang terjadi ketika kamu dan investor lainnya berbondong-bondong membeli instrumen tertentu secara masif demi cuan instan tanpa kontrol peredaran uang yang jelas.
Sementara itu, jenis kedua adalah gelembung utang, yang tercipta saat masyarakat nekat mengambil pinjaman besar-besaran di luar batas kemampuan mereka, hingga memicu kredit macet yang merugikan sektor perbankan.
Biar kamu tidak terjebak dalam pusaran investasi yang semu dan bisa mengantisipasi dampaknya sejak dini, penting untuk memahami faktor-faktor pemicunya.
Simak poin-poin penyebab terjadinya bubble economy berikut ini:
Baca juga: Daftar Legalitas Usaha yang Harus Dimiliki Pelaku UMKM, Apa Saja?
Membanjirnya Likuiditas Uang di Suatu Negara Secara Berlebihan
Pemicu utama yang sering kali menyalakan sumbu gelembung ekonomi adalah kondisi di mana jumlah uang yang beredar di masyarakat terlalu melimpah.
Kemudahan mendapatkan dana ini membuat kamu dan orang-orang di sekitarmu cenderung konsumtif dan rela membeli barang apa saja, meski harganya sudah tidak masuk akal.
Sayangnya, ketika euphoria pasar tersebut perlahan mereda, produk yang semula diperebutkan itu akan kehilangan daya tariknya dan harganya langsung terjun bebas.
Keputusan Finansial Diambil karena FOMO
Faktor psikologis seperti Fear of Missing Out atau FOMO ternyata memegang peranan yang sangat merusak dalam terciptanya gelembung ekonomi ini.
Baca juga: Jualan Online Wajib Punya NIB, Ini Manfaat yang Didapat Pelaku Usaha
Perilaku ikut-ikutan tren tanpa riset mendalam sering kali membuat kamu tergiur melakukan transaksi instrumen keuangan hanya karena takut dicap ketinggalan zaman.
Ketika semua orang membeli aset yang sama demi gengsi, harga barang tersebut akan melambung tinggi ke tingkat yang tidak wajar sebelum akhirnya jeblok saat trennya usai.
Percaya Berlebihan pada Nilai Suatu Aset
Gelembung ekonomi juga sangat mudah membesar ketika para pelaku pasar menaruh ekspektasi dan kepercayaan yang terlampau tinggi pada satu komoditas tertentu.
Kamu mungkin mengira bahwa nilai aset tersebut akan terus meroket selamanya dan menjanjikan keuntungan berlipat ganda tanpa adanya risiko penurunan.
Padahal, ekspektasi yang terlalu muluk ini justru menjadi bom waktu yang siap menghancurkan modal investasimu, ketika harga produk tersebut mendadak tidak bernilai lagi.
Adanya Kesalahan Kebijakan yang Dikeluarkan oleh Pemerintah
Penyebab terakhir yang tidak kalah krusial adalah lahirnya regulasi atau kebijakan moneter dari pemerintah yang kurang tepat dalam membaca situasi pasar.
Sebagai contoh, ketika otoritas pembuat kebijakan menetapkan aturan keliru yang justru membuat negara terjebak dalam deflasi berkepanjangan, stabilitas ekonomi akan goyah.
Kondisi salah urus makro inilah yang pada akhirnya menjadi katalisator kuat mempercepat meletusnya gelembung ekonomi di pasar domestik.
Untuk melihat dampaknya secara nyata, kamu tidak perlu melihat jauh-jauh ke luar negeri karena Indonesia sendiri pernah merasakan pahitnya fenomena ini.
Peristiwa kelam tersebut terjadi bersamaan dengan hantaman krisis moneter yang melanda tanah air pada tahun 1998 silam.
Pada masa-masa genting tersebut, Bank Indonesia berupaya menyelamatkan sektor keuangan dengan mengucurkan bantuan pinjaman dana dalam skala besar lewat skema Bantuan Likuiditas Bank Indonesia atau BLBI.
Namun, hantaman krisis yang membuat nilai tukar rupiah melemah drastis justru membuat para kreditur kelabakan dan gagal total dalam melunasi utang-utang mereka.
Akibatnya, perbankan nasional kita dipenuhi oleh tumpukan kredit macet yang tidak berkesudahan, hingga menimbulkan kerugian negara yang sangat masif.
Pengalaman pahit di masa lalu ini menjadi pelajaran berharga bahwa kestabilan harga aset harus selalu dipantau dengan ketat agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Depositobpr.id