Selasa, 19 MEI 2026 • 13:20 WIB

Industri Bisnis Buku Indonesia Makin Lesu, Ini Penyebab dan Dampaknya ke Penulis!

Author

Industri Bisnis Buku Indonesia Makin Lesu ini penyebabnya (freepik)

INDOZONE.ID - Tahukah kamu, akhir-akhir ini, bisnis industri buku di Indonesia sedang menghadapi kondisi yang cukup berat. 

Jadi, di tengah gempuran konten digital yang serba cepat, buku makin sulit menarik perhatian pembaca. 

Hal tersebut membuat beberapa toko buku besar harus menutup gerainya sekaligus bisnis buku melesu.

Kondisi ini tentu bukan terjadi begitu saja, ada banyak faktor yang ikut memengaruhi. 

Bahkan, dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh penerbit dan toko buku, tetapi juga oleh para penulis yang menggantungkan hidupnya dari karya yang mereka buat.

Lantas apa saja penyebab dan bagaimana dampaknya bagi penulis? Berikut penjelasan lengkapya: 

Penyebab Kondisi Industri Buku Lesu

Kamu harus tau lesunya industri buku fisik tidak terjadi secara tiba-tiba. 

Salah satu penyabab awalnya adalah datang saat pandemi, ketika toko buku fisik tutup, hingga aktivitas belanja secara langsung masyarakat terbatas.

Selain itu hal ini di perkuat adanya Survei IKAPI mencatat 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan lebih dari 50 persen selama pandemi, sementara 29,6 persen lainnya turun sekitar 31-50 persen.

Dampak itu tidak langsung pulih meski aktivitas masyarakat sudah kembali normal.

Selain itu, perubahan gaya hidup digital juga ikut menggeser posisi buku cetak.

Banyak orang kini lebih mudah menghabiskan waktu untuk video pendek, media sosial, podcast, atau konten hiburan yang cepat dikonsumsi hingga minat banyak berkurang. 

Berdasarkan data dari UNESCO yang banyak dikutip, minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen.

Artinya, dari seribu orang Indonesia, hanya satu orang yang benar-benar memiliki kebiasaan membaca

Jadi, buku fisik ini harus bersaing bukan hanya dengan sesama buku, tetapi juga dengan perubahan kebiasaan masyarakat sekaligus seluruh ekosistem layar yang menawarkan hiburan instan.

Faktor yang Memperparah Kondisi Industri Buku

Selain perubahan perilaku pembaca, faktor besar lain yang memperparah kondisi industri buku adalah pembajakan.

IKAPI menyebut pembajakan buku masih marak, bahkan kini tidak hanya terjadi pada buku fisik, tetapi juga buku digital yang dijual murah secara ilegal.

Baca juga: 6 Cara Mempertahankan Bisnis Biar Nggak Kalah Saing di Tengah Persaingan Ketat!

Praktik ini tentu merugikan penulis, penerbit, editor, ilustrator, percetakan, hingga toko buku karena nilai ekonomi karya tidak kembali ke pembuatnya.

Masalah pembajakan juga terlihat dari data IKAPI 2021 yang dikutip DJKI, yakni sekitar 75 persen penerbit menemukan buku mereka dibajak dan dijual di marketplace.

Kerugiannya bahkan ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah, sehingga dampaknya bukan sekadar soal etika membeli buku, tetapi juga menyangkut kesehatan ekonomi industri kreatif.

Jika pembajakan terus dinormalisasi, penerbit akan semakin hati-hati menerbitkan karya baru karena risiko kerugiannya terlalu besar.

Di sisi lain, biaya operasional toko fisik buku juga menjadi beban yang sangat berat, hingga mepeparah lesunya industri buku.

Dampak ke Penulis dan Penerbit 

Tekanan dari pembajakan itu akhirnya ikut terasa langsung pada penulis dan pelaku industri buku lainnya.

Bagi penulis, menulis bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga bentuk kontribusi intelektual untuk masyarakat. Sayangnya penghasilan dari buku belum selalu menjamin kesejahteraan.

Baca juga: 6 Strategi Menentukan Waktu Ekspansi Bisnis, Jangan Asal Buka Cabang

Royalti penulis di Indonesia umumnya hanya sekitar 8-2 persen dari harga jual buku, sehingga dari buku seharga Rp100.000, penulis hanya menerima sekitar Rp8.000 hingga Rp12.000 per eksemplar.

Kondisi ini membuat banyak penulis harus mencari pekerjaan lain, mulai dari guru, editor, penerjemah, hingga konten kreator yang secara ekonomi lebih menjanjikan.

Di saat yang sama, penerbit buku independen dan toko buku fisik juga makin berat bertahan karena beberapa faktor yaitu biaya produksi tinggi, harga kertas yang fluktuatif, daya beli melemah, serta persaingan e-commerce yang menawarkan diskon besar.


 
 
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Organisasisetda.bulelengkab.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU