INDOZONE.ID - Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan risiko serius terhadap perekonomian global jika konflik Iran berlanjut dalam beberapa tahun ke depan.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut, kondisi tersebut berpotensi memperburuk prospek ekonomi dunia, terutama jika harga minyak melonjak tinggi.
"Jika situasi ini berlanjut hingga 2027 dan harga minyak berada di sekitar 125 dolar AS, kurang lebihnya, maka kita harus menunggu hasil yang jauh lebih buruk," ujarnya dalam acara Milken Institute, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Harga Minyak Tembus US$103 Usai Trump Umumkan Blokade Iran
Menurut Georgieva, lonjakan harga energi dapat mendorong inflasi lebih tinggi sekaligus memicu ketidakpastian ekspektasi inflasi secara global.
Ketegangan meningkat sejak akhir Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Pada awal April, kedua negara sempat menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dan melakukan pembicaraan di Islamabad. Namun, perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Baca juga: Harga Minyak Naik Lagi, Pedagang Pantau Gencatan Senjata AS-Iran yang Rapuh
Presiden AS Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata untuk memberi waktu bagi Iran menyusun "proposal terpadu".
Eskalasi konflik tersebut juga berdampak pada jalur distribusi energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia, sempat mengalami gangguan yang mendorong kenaikan harga bahan bakar.
Meski demikian, Trump menyatakan mulai melihat penurunan harga energi dan memperkirakan harga akan turun lebih signifikan setelah konflik berakhir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA