Direktur SPPB UI Prof. Dr. Supriatna. (INDOZONE/Nadya Mayangsari)
INDOZONE.ID - Di tengah situasi global yang semakin menantang, BP Taskin berkolaborasi dengan UI melalui Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) dalam menyelenggarakan Seminar Nasional bertema "Ketahanan Pangan sebagai Pilar Pengentasan Kemiskinan Berbasis Kearifan Lokal”.
Acara yang berlangsung di Auditorium Kampus Salemba, Jakarta, ini bukan sekadar kegiatan akademis, tetapi momentum strategis untuk menyinergikan ide, pengalaman, dan contoh praktik terbaik dalam upaya menurunkan angka kemiskinan.
Prof. Dr. Supriatna, selaku Direktur SPPB UI, menjelaskan bahwa pemerintah memiliki target kuat untuk mengentaskan kemiskinan, yaitu menghilangkan kemiskinan ekstrem pada akhir 2026 dan menurunkan kemiskinan relatif menjadi 4,5-5%.
Baca juga: Mendag Pastikan Harga Pangan Stabil Jelang Natal dan Tahun Baru
"Jadi kita dalam pengentasan kemiskinan punya target yang sangat kuat. Pertama adalah kemiskinan ekstrem harus hapus, harus 0 di akhir tahun 2026 dan kemiskinan relatif itu di angka 4,5 sampai 5 persen," ujar Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia Prof. Dr. Supriatna di Jakarta, Jumat.
Saat ini, angka kemiskinan relatif masih berada di 8,47%. Menurutnya, pengentasan kemiskinan memerlukan dua pendekatan utama: perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Badan Pangan dan Pertanian (BP Taskin) berfokus pada kombinasi kedua aspek tersebut, tidak hanya memberikan bantuan sosial seperti PKH dan PLT, tapi juga meningkatkan pemberdayaan ekonomi masyarakat agar mereka bisa mandiri.
"BP Taskin mendorong kombinasi dua-duanya ini. Jadi bukan hanya PKH-nya saja, bukan hanya PLT-nya saja, tapi juga pemberdayaan ekonominya harus kita tingkatkan. Sehingga memang graduasi kemiskinan itu benar-benar bisa kita lakukan. Sehingga memang masyarakat menjadi mandiri nantinya," lanjutnya.
Selain itu, acara ini juga menyoroti terkait kearifan lokal, seperti sistem Subak di Bali, dapat memperkuat ketahanan pangan dengan menekankan keseimbangan, keadilan, dan gotong royong, sehingga mampu mempertahankan surplus beras di Bali meskipun lahan terbatas.
Baca juga: 5 Peluang dan Cara Memulai Usaha Pertanian yang Menjanjikan di Era Modern
Dari Kabupaten Solok, Sumatera Barat, praktik persawahan tradisional, penyimpanan pangan, dan kuliner fermentasi seperti dadiah menjadi contoh bagaimana nilai budaya dapat menopang ketahanan pangan.
Pendekatan ini mencakup empat pilar: pemenuhan kebutuhan dasar, penciptaan pendapatan, pemberdayaan, dan peningkatan tabungan/investasi.
Dari forum ini diharapkan lahir rekomendasi kebijakan dan jejaring kolaboratif untuk memperkuat ketahanan pangan sebagai pilar pengentasan kemiskinan.
"Jadi mudah-mudahan apa yang kita serap dari seminar ini bisa kita dorong menghasilkan penyelarasan kebijakan-kebijakan yang lebih baik lagi untuk mencapai target pengentasan kemiskinan itu," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan