INDOZONE.ID - Fenomena Quiet Quitting mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pekerja yang sudah cukup lama bertahan dalam pekerjaan dengan tingkat stress dan tekanan yang cukup tinggi. Istilah ini sebelumnya dikenal pada kalangan anak muda yang baru memasuki dunia kerja.
Masa transisi seringkali membuat kita jarang sekali untuk siap dalam menghadapi tuntutan pekerjaan dan tekanan dari atasan atau senior di kantor.
Namun, apakah kalian tahu apa sih sebenarnya quiet quitting itu? Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Yuk, kita bahas bareng-bareng.
Istilah quiet quitting pertama kali dicetuskan oleh seorang ekonom dan akademisi asal Amerika Serikat, Mark Boldger, pada tahun 2009 dalam sebuah simpulan ekonomi. Saat itu, Boldger menggunakan istilah quiet quitting untuk menggambarkan pola piker Sebagian pekerja di Kawasan Uni Soviet yang memilih untuk tidak bekerja keras karena merasa iklim ekonomi dan social tidak memberikan imbalan yang adil atas usaha mereka.
Baca juga: Kenapa Banyak Anak Muda Sekarang Mengalami Financial Burnout? Ini Alasannya
Pada tahun 2021, istilah tersebut Kembali muncul pada ranah korporat, dan digunakan oleh para pakar strategi karir, Bryan Creely dalam sebuah unggahan disosial media. Creely menggunakan istilah tersebut untuk merujuk pada fenomena pekerja yang "bertahan di pekerjaan tetapi tidak lagi memburu promosi atau membebani diri secara berlebihan.
Data Gallup (2022) menunjukkan bahwa sekitar 50% tenaga kerja global termasuk dalam kategori quiet quitters, bahkan angka tersebut mencapai 68% di Asia Tenggara (Talentics, 2023).
Studi internasional, seperti penelitian Galanis et al. (2024) pada tenaga Kesehatan di Yunani, menemukan bahwa 62% responden menunjukkan karakteristik quiet quitting, sementara penelitian di Indonesia mengaitkannya dengan ketidakpuasan kerja, tekanan psikologis, kurangnya pengembangan karier, dan komunikasi internal yang tidak efektif (Attamimi & Palupi, 2025).
Baca juga: 7 Cara Mengatur Keuangan Setelah Resign, Biar Dompet Aman Meski Nggak Ngantor!
Nah, hal tersebut adalah hal-hal yang umumnya terjadi sebagai penyebab terjadinya quiet quitting pada seseorang.
Sebagai rekomendasi, organisasi disarankan mengadopsi intervensi berbasis resources seperti peningkatan psychological safety, otonomi kerja, dan program well-being untuk memutus siklus quiet quitting, mencegah attrition atau pengurangan jumlah karyawan secara bertahap akibat posisi kosong yang tidak terisi, serta membangun kultur positif berkelanjutan yang mendukung retensi talenta muda di konteks Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal