Rabu, 10 JUNI 2026 • 14:43 WIB

Harga Pertamax Naik, Pengamat Nilai Langkah Realistis Jaga Fiskal

Author

Pengamat ekonomi menilai terkait kenaikan harga BBM jenis Pertamax (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

INDOZONE.ID - Harga BBM non subsidi seperti Pertamax RON 92 dan Pertamax Green RON 95 sudah mengalami kenaikan per hari ini, Rabu (10/6/2026).

Pengamat ekonomi menilai kenaikan harga BBM jenis tersebut tidak bisa ditahan lagi oleh pemerintah.

Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai penyesuaian harga tersebut pada dasarnya mengikuti karakter Pertamax sebagai BBM non subsidi yang memang ditentukan oleh mekanisme pasar dan sudah lebih dahulu dilakukan oleh negara lain.

"Saya kira RON 92 atau Pertamax itu sebetulnya BBM non subsidi. Harganya biasa ditetapkan berdasarkan mekanisme pasar, sesuai dengan harga keekonomian," kata Fahmy, Rabu (10/6/2026).

Baca juga: Dugaan Penyalahgunaan BBM Subsidi di Jepara, Truk Bawa Belasan QR Code dan Pelat Palsu

Dia menilai, sejauh ini pemerintah sudah menjaga kestabilan harga BBM termasuk Pertamax. 

Harga Pertamax tidak naik sudah dijaga sejak Maret 2026 dengan tujuan meredam dampak ekonomi kepada masyarakat.

Menurutnya, seiring meningkatnya beban kompensasi yang harus dibayarkan kepada Pertamina, ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas sehingga penyesuaian harga akhirnya sulit dihindari.

"Betul. Sebenarnya tidak bisa ditahan lagi oleh pemerintah untuk mempertahankan harga Pertamax agar tidak naik, karena beban fiskalnya semakin berat," ungkapnya.

Kebijakan tersebut juga dinilai Fahmy berpotensi membantu pemerintah mengurangi tekanan terhadap APBN. 

Meski begitu, efektivitasnya akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah mengendalikan pola perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite yang masih dijual dengan harga lebih murah.

Terpisah, Ekonom Universitas Negeri Manado (UNIMA), Robert Winerungan menyebut kenaikan harga Pertamax merupakan bagian dari upaya pemerintah menjaga kesehatan APBN di tengah kondisi global yang belum stabil.

"Pemerintah berupaya mengurangi beban APBN karena Pertamax sebenarnya merupakan BBM yang tidak seharusnya mendapat intervensi pemerintah. Yang memang mendapat campur tangan pemerintah adalah Pertalite. Jadi pemerintah mengurangi beban APBN dengan menaikkan harga RON 92," kata Robert.

Selain mengurangi tekanan fiskal, Robert menilai penyesuaian harga juga penting untuk menjaga keseimbangan harga BBM domestik dengan negara-negara tetangga. Menurut dia, selisih harga yang terlalu jauh berpotensi membuka peluang penyalahgunaan dan praktik perdagangan ilegal yang merugikan negara.

Baca juga: Pemerintah Perpanjang WFH karena Dinilai Efektif Tekan Konsumsi BBM

Dia juga menilai dampak kenaikan Pertamax tidak akan sebesar jika pemerintah menaikkan harga pertalite atau solar. 

Pasalnya, pengguna pertamax pada umumnya dari kelompok masyarakat menengah dan pemilik kendaraan yang lebih baru.

"Saya kira dampaknya tidak terlalu besar. Sebagian besar masyarakat menengah ke bawah sudah menggunakan Pertalite. Karena itu saya yakin pengaruhnya tidak terlalu signifikan. Pertamax atau RON 92 umumnya digunakan oleh kendaraan-kendaraan yang lebih baru," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU