INDOZONE.ID - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Indonesia terus mendorong pelaku industri kecil dan menengah (IKM) kerajinan agar makin kompetitif di pasar global.
Salah satu strategi yang diandalkan adalah diversifikasi produk, langkah yang dinilai relevan di tengah perubahan selera pasar yang semakin dinamis.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, konsumen saat ini cenderung mencari produk kerajinan yang unik, spesifik, tapi tetap fungsional. Produk juga dituntut punya nilai tambah agar bisa menonjol di tengah persaingan.
“Diversifikasi produk jadi kunci agar kerajinan Indonesia tetap kompetitif lewat inovasi yang sesuai kebutuhan pasar,” ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (3/5/2026).
Menurutnya, strategi ini tidak harus rumit. Diversifikasi bisa dilakukan dengan menambah variasi produk secara horizontal, tanpa harus mengubah bahan baku atau membangun lini produksi baru.
Baca juga: Kemenperin Korban Pencatutan Mantan Pejabat Lewat Modus SPK Fiktif
Dengan cara ini, pelaku IKM bisa menjangkau pasar yang lebih luas tanpa biaya besar.
Data Kemenperin menunjukkan tren positif sektor ini. Sepanjang 2025, ekspor kerajinan nasional mencapai USD 806,63 juta, naik 15,46 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren ini berlanjut di awal 2026, dengan nilai ekspor Januari menyentuh USD 52,38 juta atau tumbuh 19,49 persen secara tahunan.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita menilai potensi industri kerajinan masih sangat besar. Oleh karena itu, inovasi dan adaptasi jadi kunci agar pelaku IKM bisa terus bersaing, termasuk di pasar ekspor.
Sebagai langkah konkret, Ditjen IKMA menggelar pendampingan teknis diversifikasi produk di Kabupaten Cirebon pada 14–17 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Road to HUT Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2026.
Cirebon dipilih bukan tanpa alasan. Daerah ini dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan dengan produk khas seperti rotan, kayu, hingga batik.
Meski begitu, pelaku IKM tetap butuh dorongan agar berani bereksperimen mengikuti tren pasar.
Menariknya, pemanfaatan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) juga mulai diperkenalkan.
Teknologi ini bisa membantu pelaku usaha membaca tren dan mengembangkan ide produk yang lebih relevan dengan kebutuhan pasar.
Selain inovasi produk, strategi pemasaran juga jadi sorotan. Pelaku IKM didorong untuk memaksimalkan platform digital agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk internasional.
Berbagai program pun terus digulirkan Ditjen IKMA, mulai dari bimbingan teknis, fasilitasi pameran, layanan kemasan, hingga dukungan kekayaan intelektual, sertifikasi, dan restrukturisasi mesin.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah juga diperkuat untuk mengembangkan sentra IKM di berbagai wilayah.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan Budi Setiawan berharap dukungan dari pemerintah daerah terus ditingkatkan.
Hal ini sejalan dengan Perda Kabupaten Cirebon Nomor 1 Tahun 2026 tentang Rencana Pembangunan Industri 2025–2045.
Regulasi tersebut menetapkan tiga sektor unggulan, yaitu industri makanan dan minuman berbasis pertanian dan hasil laut, industri kerajinan rotan, kayu, dan bambu, serta industri pakaian jadi dan batik.
Di sisi lain, Dekranasda Kabupaten Cirebon juga aktif membina pelaku IKM lewat program Akademia Creative Cirebon (ACC).
Program ini memberikan pendampingan intensif selama enam bulan, mulai dari desain produk, pemilihan bahan baku, efisiensi produksi, hingga strategi pemasaran.
Hasilnya mulai terlihat. Salah satu IKM binaan di sektor kerajinan kulit bahkan sudah berhasil menembus pasar ekspor hingga Rusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Kemenperin