Sabtu, 07 FEBRUARI 2026 • 19:45 WIB

Di Tengah Tekanan Ekonomi, Seberapa Efektif Program MBG? Ini Kata Pengamat

Author

Ilustrasi program makan bergizi gratis untuk anak Indonesia. (Eliani Kusnedi)

INDOZONE.ID - Di tengah kondisi ekonomi global yang lagi nggak pasti, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai tetap penting untuk dijalankan.

Program ini dianggap sebagai bentuk intervensi sosial yang krusial untuk masa depan generasi Indonesia.

Direktur Eksekutif lembaga penelitian Kiprah, Fakhrido Susilo, mengatakan MBG punya peran strategis, meski di lapangan masih menuai pro dan kontra.

Ada yang melihat program ini sebagai bukti negara hadir memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tapi ada juga yang menilainya sebagai pemborosan anggaran.

Menurut Fakhrido, dinamika ekonomi global bukan hanya dialami Indonesia. Negara-negara besar seperti India, Brasil, hingga Amerika Serikat juga menghadapi tantangan serupa, namun tetap mempertahankan program sosial seperti midday meal.

“Saya pikir ada banyak instrumen kebijakan yang bisa ditawarkan pemerintah untuk memitigasi dinamika ekonomi, tanpa harus mengorbankan MBG,” ujar Fakhrido, dikutip dari Antara.

Baca juga: Kenali 7 Istilah Perbankan yang Sering Muncul, Dijamin Gak Bingung Urus Keuangan!

Ia juga menyoroti realitas banyak orang tua di Indonesia yang harus bekerja dari pagi sampai malam, bahkan menjalani lebih dari satu profesi. Kondisi ini sering kali membuat perhatian terhadap asupan gizi anak jadi terabaikan.

“Adanya MBG justru meringankan beban orang tua dan memastikan anak tetap mendapat asupan bergizi tanpa mengganggu produktivitas kerja,” tuturnya.

Fakhrido menegaskan, MBG bukan sekadar soal perut anak kenyang. Nutrisi yang baik berperan besar dalam membentuk kemampuan berpikir dan daya saing anak sejak dini.

Menurutnya, intervensi di jenjang pendidikan tinggi tidak akan efektif jika fondasi gizi pada usia awal rapuh.

Tanpa gizi yang memadai, skor PISA Indonesia akan sulit bersaing dan target Indonesia Emas 2045 berpotensi hanya jadi wacana menurutnya.

Meski begitu, Fakhrido menilai aspek efisiensi anggaran MBG masih bisa diperbaiki. Pemerintah didorong melakukan studi komparatif dan evaluasi dampak agar tata kelola program lebih optimal tanpa menurunkan kualitas gizi.

Lanjutnya, apakah MBG benar-benar meningkatkan kehadiran sekolah, menaikkan IQ anak, atau berdampak ke UMKM dan koperasi lokal, itu semua perlu data yang kuat.

Ia menekankan, tanpa riset dan evaluasi yang matang, program MBG akan terus dibayangi kontroversi. Namun sebagai investasi jangka panjang pembangunan manusia, MBG dinilai sebagai langkah berani yang layak dikawal bersama.

Baca juga: Dukung Gerakan Indonesia ASRI, BRI Peduli Ajak Masyarakat Bersih-bersih Pantai untuk Lingkungan Berkelanjutan di Pantai Kedonganan Bali

Senada dengan itu, pakar kesehatan dr Rita Ramayulis, DCN, M Kes, menilai MBG sebagai solusi konkret untuk menjawab makin sulitnya akses anak terhadap makanan bergizi.

“Kalau dimaksimalkan, program ini juga bisa menggerakkan perekonomian lewat olahan pangan lokal,” katanya.

Ia menambahkan, kunci keberhasilan MBG ada pada diversifikasi menu. Program ini sebaiknya tidak terpaku pada menu yang itu-itu saja seperti ayam goreng, telur, tahu, dan tempe.

Pemanfaatan pangan lokal, menurut Rita, bisa menjaga stok pangan keluarga, menggerakkan ekonomi akar rumput, sekaligus menekan biaya program.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Antara

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU