Jumat, 01 MEI 2026 • 11:35 WIB

Apa Itu Window Dressing? Begini Cara Kerja dan Contohnya Biar Nggak Bingung!

Author

Window Dressing (freepik)

INDOZONE.ID - Pernah dengar istilah window dressing saat membahas saham atau laporan keuangan?

Sekilas terdengar rumit, padahal istilah ini cukup sering muncul di dunia investasi, terutama menjelang akhir bulan atau tutup buku. 

Nah supaya nggak bingung, yuk pahami cara kerja dan contohnya lewat penjelasan berikut: 

Apa Itu Window Dressing?

Window dressing adalah strategi untuk mempercantik tampilan laporan keuangan atau portofolio investasi agar terlihat lebih sehat dan menguntungkan di akhir periode tertentu.

Praktik ini cukup umum terjadi di pasar saham, reksa dana, hingga perusahaan yang tercatat di bursa, terutama menjelang akhir kuartal atau tutup buku tahunan.

Biasanya, perusahaan atau manajer investasi melakukan strategi ini dengan menjual aset yang kinerjanya buruk lalu menggantinya dengan aset yang performanya lebih baik.

Tujuannya agar laporan keuangan atau portofolio yang ditampilkan terlihat lebih menarik di mata investor maupun pemegang saham.

Jadi intinya, window dressing adalah upaya menciptakan kesan positif terhadap performa keuangan, meski kondisi sebenarnya belum tentu sebaik yang terlihat di laporan.

Cara Kerja Window Dressing

Cara kerja window dressing sebenarnya cukup sederhana dan mudah dipahami.

Dalam dunia investasi, strategi ini sering dilakukan manajer investasi setelah melihat evaluasi laporan kuartalan portofolio.

Dari situ, mereka bisa menilai apakah susunan aset saat ini sudah menghasilkan keuntungan sesuai target atau belum.

Jika performanya dianggap kurang maksimal, manajer investasi atau perusahaan bisa melakukan penyesuaian untuk memperbaiki tampilannya.

Baca juga: Mengenal Suku Bunga The Fed dan Pengaruhnya, Investor Wajib Tahu

Misalnya dengan membeli saham atau aset unggulan yang sedang berkinerja positif agar portofolio terlihat lebih solid.

Di saat yang sama, aset atau saham yang performanya buruk biasanya dijual agar tidak muncul dalam laporan akhir periode.

Dengan begitu, portofolio akan tampak lebih aman dan minim risiko di mata investor.

Selain itu, manajer investasi juga bisa mengatur ulang alokasi aset dengan memperbesar porsi pada saham-saham berkapitalisasi besar yang dianggap stabil.

Strategi ini memberi kesan bahwa pengelolaan investasi dilakukan secara hati-hati dan profesional.

Contoh Window Dressing

Bagi investor pemula atau masyarakat yang jarang mengikuti pasar modal, istilah window dressing mungkin masih terdengar asing.

 Padahal, praktik seperti ini sebenarnya cukup sering terjadi dan bisa ditemukan dalam berbagai bentuk.

Salah satu contohnya adalah kasus seorang mantan Presiden Direktur PT ABC yang diduga memanipulasi laporan keuangan tahun 2019.

Caranya dengan melakukan overstatement atau menggelembungkan nilai piutang dari enam distributor, dari sekitar Rp300 miliar menjadi Rp1,5 triliun.

Baca juga: Apa Itu Index Fund? Ini Cara Kerja dan Keuntungannya Buat Pemula!

Akibatnya, laporan keuangan perusahaan terlihat jauh lebih sehat dan menguntungkan daripada kondisi sebenarnya.

Tampilan laporan yang cantik ini kemudian menarik minat banyak investor untuk membeli saham perusahaan tersebut, tanpa mengetahui risiko yang tersembunyi di baliknya.

Itulah penjelasan mengenai window dressing, mulai dari pengertian, cara kerja, hingga contohnya di dunia nyata.

Dengan memahami praktik ini, kamu bisa lebih teliti membaca laporan keuangan dan membuat keputusan investasi dengan lebih bijak.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Investopedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU