Yan Ardianto Handoyo hingga Donna Agnesia berbagi tips mengatur cash flow usai libur Lebaran. (Dewi Kania/Z Creators)
INDOZONE.ID - Kita butuh ketahanan finansial setelah masa-masa libur Lebaran, terutama setelah terjadi fenomena pengeluaran yang cenderung membludak selama periode hari raya.
Momentum Lebaran memang identik dengan berbagai kebutuhan tambahan, mulai dari belanja kebutuhan rumah tangga, mudik, hingga berbagi dengan keluarga dan kerabat. Karena itu, penting bagi masyarakat untuk kembali menata kondisi keuangan agar tetap stabil setelah periode pengeluaran besar tersebut.
Faculty Head Sequis Quality Empowerment STAE Sequis Life, Yan Ardianto Handoyo, mengatakan realita yang sering terjadi setelah libur Lebaran panjang adalah pengeluaran membengkak. Bahkan, banyak orang yang lupa tidak menyisihkan uangnya untuk melanjutkan hidup setelah Lebaran.
Menurutnya, kondisi ini kerap membuat sebagian masyarakat mengalami tekanan finansial karena tidak memiliki perencanaan keuangan yang matang sejak awal.
“Kita kembali ke beberapa hari jelang Lebaran, saat konsumsi meningkat untuk membeli bahan pangan yang harganya naik, membeli tiket mudik, lalu THR hanya lewat. Setelah Lebaran usai, pengeluaran bertambah karena bertemu keponakan, saudara, pulang kampung, serta membawa oleh-oleh,” kata Yan dalam acara Halalbihalal Media Sequis Life di Jakarta, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: 7 Tips Mengatur Budget Mudik Lebaran agar Keuangan Tetap Aman, Dijamin Anti Boros
Menurut Yan, fenomena tersebut menjadi tantangan finansial yang banyak dihadapi masyarakat setelah Lebaran. Namun, hal ini wajar terjadi dan perlu segera diperbaiki pasca-Lebaran.
“Momen Lebaran dengan pengeluaran yang banyak itu wajar dan terjadi dalam waktu yang sama. Di luar itu, ada juga orang-orang yang keuangannya tidak sampai berantakan,” imbuhnya.
Karena pengeluaran membludak pasca-Lebaran, banyak orang baru merasa khawatir. Padahal sebelumnya, masyarakat merasa kondisi finansialnya baik-baik saja, apalagi jika sudah mapan, memiliki rumah, mobil, dan pekerjaan tetap.
“Sayangnya, banyak orang jarang memikirkan apakah finansialnya benar-benar stabil. Pernah tidak terbayang kalau tiba-tiba rumah bocor? Mereka merasa tidak masalah karena bisa menggunakan uang lain untuk memperbaiki.”
“Namun, jika ada risiko sakit kritis seperti jantung atau stroke dan membutuhkan biaya Rp500 juta, kita tidak siap menghadapi risiko besar dalam hidup, dan yang menjadi masalah adalah keluarga kita,” paparnya.
Yan mengajak masyarakat untuk kembali memperbaiki kondisi keuangan pasca-Lebaran dengan mengatur arus kas (cash flow). Hal yang tak kalah penting adalah mulai menyiapkan dana darurat serta perlindungan seperti asuransi.
“Salah satu kelemahan kita bukan karena tidak bisa mencari uang, tetapi pada manajemen cash flow yang masih dasar. Strategi perencanaan yang baik adalah sisihkan, bukan sisakan. Alokasinya 45 persen untuk kebutuhan hidup seperti sewa, makan, transportasi, dan utilitas, serta 35 persen untuk cicilan utang seperti KPR dan kredit,” jelasnya.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk menghindari perilaku konsumtif dan menyiapkan dana darurat dalam bentuk tabungan likuid yang mudah dicairkan untuk kebutuhan mendesak, seperti perbaikan kendaraan atau keperluan tak terduga lainnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan