INDOZONE.ID - Di balik setiap batang cokelat “Raya Jembrana” yang kini resmi diluncurkan Pipiltin Cocoa, tersimpan kisah panjang perjuangan petani kakao Bali. Jembrana, sebuah kabupaten di ujung barat Pulau Dewata, bukan hanya dikenal dengan pesona alamnya, tetapi juga keteguhan warganya dalam mengolah biji kakao hingga menembus panggung internasional.
Perjalanan panjang itu tidak mudah. Para petani Jembrana yang tergabung dalam Koperasi Kakao Kerta Semaya Samaniya (KSS) harus berhadapan dengan keraguan pasar, keterbatasan akses, hingga kesulitan menjaga konsistensi mutu. Namun berkat disiplin serta kesungguhan, hasil jerih payah tersebut akhirnya diakui dunia melalui Cocoa of Excellence Silver Award 2023 di Amsterdam.
Dukungan berkelanjutan menjadi salah satu kunci sukses. Sejak tahun 2011, Yayasan Kalimajari mendampingi para petani dalam program kakao berkelanjutan.
“Sejak awal kami percaya, kakao Jembrana punya potensi dunia. Dengan komitmen petani untuk memproduksi biji fermentasi berkualitas, kita bisa membuktikan bahwa kakao Indonesia mampu bersaing di panggung internasional,” ujar Direktur Yayasan Kalimajari, Ibu Agung Widiastuti.
Baca juga: Menko Airlangga: Amerika Serikat Setujui Pembebasan Tarif Ekspor Sawit, Kakao, dan Karet Indonesia
Fakta ini pula yang menginspirasi Tissa Aunilla, pemilik Pipiltin Cocoa, untuk mengangkat produk lokal. Ia melihat potensi besar dari hasil perkebunan rakyat dan ingin memperkenalkan cokelat Indonesia kepada dunia melalui konsep bean to bar. Langkah ini sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap dedikasi para petani yang menjaga keanekaragaman kakao nusantara.
Dalam kesempatan peluncuran, Ibu Agung menekankan dua aspek utama: agroforestry dan fermentasi. Agroforestry menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memberi nilai tambah pada lahan pertanian, sementara fermentasi menjadi kunci lahirnya cita rasa khas yang membuat kakao Jembrana unggul di mata dunia.
Hal senada juga diungkapkan Ketua Koperasi KSS, I Ketut Wiadnyana. Menurutnya, penghargaan internasional bukanlah akhir perjalanan.
“Kami bukan hanya sekadar koperasi yang mengumpulkan hasil panen. Kami memastikan setiap anggota memahami nilai fermentasi, transparansi harga, dan pentingnya sertifikasi berkelanjutan. Penghargaan Cocoa of Excellence menjadi pengakuan, tetapi yang lebih penting adalah keberlanjutan, agar petani tidak hanya menanam, tetapi juga merasakan nilai dari kerja keras mereka,” ujarnya.
Baca juga: China-Indonesia Jalin Hubungan Baik Lewat Proyek Pertanian Padi Organik di Bali
Semangat regenerasi pun tak luput dari perhatian. I Made Dwi Mahardiasa atau Bli Kadek, pemuda berusia 20 tahun dari Desa Candikusuma, memilih tetap bertani meski banyak teman sebayanya merantau ke kota. Baginya, kebun kakao bukan hanya sumber penghasilan, tetapi juga warisan yang harus diteruskan.
“Banyak teman sebaya saya pindah ke kota. Tapi saya percaya kebun kakao punya masa depan. Generasi muda harus melanjutkan supaya cerita kakao Jembrana tidak berhenti di orang tua kami,” ungkapnya.
Kisah estafet antar generasi ini divisualisasikan oleh Beawiharta melalui pameran foto “Resilience” di Alun Alun Grand Indonesia. Mantan fotografer Reuters itu ingin menegaskan bahwa kakao bukan sekadar komoditas, tetapi juga simbol keteguhan hati para petani. “
"Melalui Resilience saya ingin menunjukkan bahwa kakao bukan sekadar bahan pangan, melainkan kisah estafet antar generasi. Ini adalah tentang cinta pada tanah dan kebanggaan pada Indonesia,” katanya.
Peluncuran “Raya Jembrana” pada 2 Oktober 2025 menghadirkan makna yang lebih dalam. Tidak hanya mengangkat nama Bali, khususnya Jembrana, sebagai rumah bagi kakao berkualitas, tetapi juga menegaskan peran petani sebagai pilar utama industri cokelat. Perayaan ini didukung Wonderful Indonesia dari Kementerian Pariwisata, menambah gaung bahwa produk lokal Indonesia layak bersaing di kancah global.
Kini, cokelat single origin dari Jembrana yang diluncurkan Pipiltin Cocoa hadir dalam varian Chocolate Bar Bali 70%, Chocolate Bar Bali 60%, dan Chocolate Cracks, Jembrana Tropical Fruit. Lebih dari sekadar produk, setiap gigitan membawa cerita panjang tentang ketekunan, keberanian, dan cinta tanah air yang diwariskan dari satu generasi petani ke generasi berikutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release