INDOZONE.ID - Isu sampah yang tidak tertampung di TPA di kawasan Tangerang Selatan yang viral beberapa waktu lalu meresahkan warga. Padahal jika bentuknya sampah anorganik bisa dikelola dengan baik dengan cara recycle dan memutar roda ekonomi sirkular.
Sampah anorganik terdiri dari berbagai material operasional mulai dari kertas, kain, hingga plastik & impraboard. Jenis sampah ini bisa diolah menjadi barang atau kerajinan tangan seperti furniture, hiasan dinding, aksesori, dan lainnya.
Nah, sampah anorganik itu harus di-recycle dengan mesin pengolah sampah yang banyak manfaatnya. Melihat peluang itu, Cermati Fintech Group dan Indodana melakukan pengadaan mesin pengolah sampah anorganik di Kertabumi Recycling Center, Tangerang Selatan.
Mesin daur ulang tersebut bisa dipakai untuk mendaur ulang 20 ton per bulan, kurang lebih sama dengan 240 ton sampah setiap tahunnya. Sementara lifetime (masa aktif) mesinnya bisa sampai 15 tahun. Jadi, bisa dikatakan dalam 15 tahun CFG bisa berkontribusi dalam daur ulang sampah sebanyak 3.600 ton besama Kertabumi.
Baca juga: 7 Cara Orang Kaya Bangun Usaha dari Nol: Bukan Modal Besar tapi Langkah Kecil yang Konsisten
Hidupkan Ekonomi Sirkular
Di Kertabumi Recycling Center, sebanyak 660 kilogram dari sampah gabungan diolah kembali melalui tangan rekan-rekan kertabumi yang terampil. Sampah itu diolah oleh warga setempat yang tergabung dalam Karang Taruna dan PKK.
Mereka membuat produk kerajinan tangan yang memiliki nilai ekonomi. Selanjutnya, kerajinan tangan ini akan dipasarkan di galeri dan juga melalui media sosial.
Manfaatnya tentu saja untuk menghidupkan roda ekonomi sirkular agar terus bergerak dan memberikan manfaat yang berkelanjutan. Pemberdayaan masyarakat ini pun menambah cuan dalam jangka panjang.
Di samping itu, mengolah sampah seperti ini juga sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan. Seperti yang diakui oleh CEO Cermati Fintech Group Andhy Koesnandar.
Baca juga: Menjangkau yang Tak Terjangkau: Pelayanan Sepenuh Hati PNM untuk Kelompok Subsisten
“Untuk pertumbuhan bisnis tidak boleh mengesampingkan tanggung jawab terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Melalui pemanfaatan material branding menjadi produk fungsional, kami mengambil pendekatan kreatif untuk meminimalisir jejak karbon operasional dan memastikan material promosi kami memiliki siklus hidup yang lebih panjang dan bermanfaat,” ujarnya di Jakarta.
Saatnya Ubah Paradigma Masyarakat
Dalam kesempatan sama, Direktur Indodana Finance Iwan Dewanto menambahkan, selain aspek kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan masa depan, terdapat aspek pemberdayaan masyarakat yang harus dijalankan. Sampah bukanlah akhir dari segalanya karena bisa jadi cuan jadi masyarakat.
“Kami ingin mengubah paradigma bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari nilai baru. Dengan pengolahan yang tepat sampah dapat diolah menjadi barang jadi yang memiliki manfaat, nilai ekonomi dan daya guna bagi masyarakat,” tuturnya.
Namun, menurut Iwan, fokusnya kini bukan sekadar pada mesin pengolah sampah, tapi memberdayakan masyarakat. Melalui dukungan ini, ia berharap warga sekitar Kertabumi Recycling Center dapat mengasah potensi ekonomi kreatif mereka.
“Sampah yang dikelola mampu memberikan manfaat nilai tambah finansial serta dapat melihat peluang usaha yang dapat tumbuh dari proses daur ulang untuk terciptanya kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.
Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Indodana Fintech Ronny Wijaya mengatakan bahwa inisiatif ini merupakan langkah nyata dalam membangun ekosistem teknologi finansial yang berkelanjutan. Terutama soal daur ulang sampah yang kini mulai di banyak kalangan masyarakat.
“Kami ingin kehadiran solusi digital kami di masyarakat berjalan beriringan dengan dampak positif bagi kelestarian ekosistem alam, sehingga inovasi dan alam dapat tumbuh bersama secara harmonis,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan