UNOX Andalkan Data dan Kolaborasi Sebagai Strategi Bisnis untuk Tingkatkan Profit Industri Kuliner!
INDOZONE.ID - Di tengah persaingan industri kuliner yang makin ketat, pelaku usaha kini tak hanya dituntut kreatif, tetapi juga efisien dan terukur.
Melihat kebutuhan ini, UNOX menghadirkan pendekatan berbeda lewat teknologi yang tidak sekadar membantu memasak, tetapi juga bisa dihitung dampaknya secara bisnis.
Mulai dari efisiensi waktu hingga penghematan biaya, semuanya dirancang lebih terukur melalui pelatihan experince center.
Lalu, bagaimana strategi ini dijalankan di lapangan? Berikut penjelasannya:
Uji Coba Berbasis Data, Efisiensi Dapur Kini Bisa Diukur
UNOX mulai menggeser pendekatan dapur profesional dari sekadar operasional menjadi lebih strategis melalui pemanfaatan data.
Lewat experience center yang berlokasi PIK 2 Jakarta, pelaku usaha tidak hanya datang untuk melihat alat, tetapi bisa langsung mencoba, menguji, dan menghitung dampaknya terhadap bisnis mereka.
Di sini, chef, pemilik restoran, hingga pelaku UMKM bisa melakukan uji coba menu secara langsung menggunakan teknologi oven yang tersedia.
Mereka juga dapat membandingkan hasil masakan, mengukur waktu produksi, hingga melihat potensi efisiensi yang bisa didapat dalam operasional sehari-hari.
Baca juga: Konsistensi dan Standar Kerja Jadi Kunci Bisnis Berkelanjutan
Setiap uji coba dirancang dengan perbandingan yang jelas, mulai dari waktu produksi hingga performa hasil.
Misalnya, proses baking yang sebelumnya memakan waktu 30 menit dapat dipangkas menjadi sekitar 16 menit.
Artinya, dalam waktu yang sama, kapasitas produksi bisa meningkat hampir dua kali lipat.
“Dalam setiap tes pasti ada perbandingan dan value yang bisa diukur. Bukan sekadar dilihat secara fisik, tapi bisa dihitung dampaknya,” jelas Jang Luk sebagai General Manager Unox Indonesia dalam Konfersi Pers (1/3/26)
Tak hanya itu, pelaku usaha juga bisa berdiskusi langsung dengan tim untuk menyesuaikan kebutuhan dapur mereka, apakah untuk bakery, restoran, atau produksi skala besar.
Dengan begitu, keputusan investasi yang diambil jadi lebih tepat dan minim risiko.
Sejalan dengan itu efisiensi yang dihasilkan pun berdampak luas, mulai dari penghematan energi, penurunan biaya operasional, hingga optimalisasi tenaga kerja.
Semua ini menjadi dasar penting dalam menghitung potensi profit secara lebih akurat.
Kolaborasi dan Akses Terbuka, UNOX Perluas Jangkauan ke Pelaku Usaha
Selain fokus pada teknologi, UNOX juga mengandalkan strategi kolaborasi untuk memperluas jangkauan di industri kuliner.
Mereka membuka akses bagi siapa saja, mulai dari chef, pelaku UMKM, hingga bisnis besar untuk mencoba langsung teknologi yang ditawarkan.
Baca juga: 11 MoU Indonesia-Jepang dengan Kesepakatan Bisnis Rp401,71 T, Ini yang Perlu Kamu Tahu
Prosesnya pun dibuat sederhana, di mana calon pengguna bisa mengajukan permintaan melalui media sosial atau website resmi.
Setelah itu, tim UNOX akan menyesuaikan kebutuhan pengguna agar teknologi yang digunakan benar-benar relevan dengan operasional mereka.
“Kami tidak ingin mereka membeli produk yang tidak sesuai kebutuhan. Semua disesuaikan, apakah untuk bakery, restoran, atau produksi skala besar,” tambah Jang Luk.
Menariknya, strategi branding UNOX juga tidak hanya bergantung pada promosi konvensional.
Mereka juga melakukan kolaborasi dengan chef dan penggunaan teknologi untuk berbagai jenis masakan mulai dari steaming, roasting, hingga baking.
Dengan pendekatan yang terbuka dan berbasis kebutuhan, UNOX berupaya menjadi solusi nyata bagi pelaku usaha kuliner, sekaligus mendorong industri ini berkembang lebih modern dan efisien.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan