Minggu, 07 JUNI 2026 • 21:00 WIB

Planned Obsolescence: Trik Rahasia di Balik Gadget yang Cepat Rusak, Ternyata itu Strategi Bisnis!

Author

Ilustrasi Planned Obsolescence. (Freepik)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu merasa kalau HP yang baru dipakai dua atau tiga tahun tiba-tiba performanya jadi lemot parah atau baterainya mendadak boros banget.

Padahal awalnya lancar jaya buat main game atau scrolling medsos seharian. Di saat yang sama, brand favorit kamu merilis seri terbaru dengan desain yang lebih kece dan fitur yang sepertinya wajib banget punya.

Akhirnya, banyak dari kita yang rela antre atau menabung mati-matian demi mengganti perangkat lama dengan yang paling gres.

Tapi tunggu dulu, apakah ini murni karena kemajuan teknologi yang super cepat, atau jangan-jangan ada sebuah rahasia besar di baliknya.

Fenomena ini bukan cuma soal tren, tapi soal sebuah strategi yang bikin kita terus-menerus haus akan produk baru.

Yuk kita bongkar lebih dalam tentang sebuah konsep yang mungkin belum banyak orang tahu, tapi sangat memengaruhi dompet dan gaya hidup kita.

Dilansir dari YouTube @Tekhno Skrip, yuk kita kupas tuntas rahasia di balik dunia industri ini!

Baca juga: Jangan Sampai Tertukar, Begini Cara Bedakan Profit Kotor dan Bersih Biar Bisnis Nggak Boncos!

Mengenal Lebih Dekat tentang Apa Itu Planned Obsolescence?

Mungkin istilah ini terdengar teknis banget di telinga kamu, tapi sebenarnya artinya cukup simpel.

Planned obsolescence adalah sebuah strategi bisnis di mana produk-produk sengaja dirancang oleh produsen agar tidak bertahan lama atau supaya cepat terasa jadul.

Bayangkan sebuah barang yang sebenarnya bisa dipakai sepuluh tahun, tapi dibuat sedemikian rupa supaya dalam tiga tahun kamu sudah merasa harus beli yang baru.

Tujuannya tentu saja untuk keuntungan perusahaan. Semakin cepat barang kamu rusak atau terasa kuno, semakin cepat pula kamu kembali ke toko untuk belanja lagi.

Strategi ini memang sangat efektif buat muterin roda ekonomi perusahaan, tapi di sisi lain, ini jadi tantangan besar buat kita sebagai konsumen dan juga buat bumi kita tercinta.

Skandal Besar yang Menimpa Raksasa Teknologi Dunia

Bicara soal teknologi, kita pasti nggak asing dengan brand Apple. Perusahaan ini dikenal dengan produknya yang ikonik dan prestisius.

Namun, pada tahun 2017, dunia sempat heboh karena sebuah temuan yang mengejutkan.

Ternyata, Apple secara sengaja memperlambat performa model iPhone lama mereka lewat pembaruan perangkat lunak.

Alasan resminya sih untuk menjaga baterai yang sudah lemah supaya HP nggak mendadak mati total.

Tapi bagi para kritikus dan pengguna, ini dianggap sebagai trik halus supaya orang-orang segera upgrade ke model terbaru karena HP lamanya sudah mulai lola alias loading lama.

Kasus ini sampai masuk ke ranah hukum di berbagai negara besar dan merusak kepercayaan pengguna.

Meskipun akhirnya mereka menawarkan program ganti baterai murah sebagai permintaan maaf, kejadian ini membuka mata dunia bahwa praktik keusangan terencana itu benar adanya dan sangat dekat dengan genggaman kita.

Jejak Sejarah Panjang dan Rahasia Phoebus Cartel

Kalau kamu pikir ini adalah trik baru di era smartphone, kamu salah besar. Praktik ini sudah ada sejak awal abad ke-20, tepatnya saat revolusi industri sedang gila-gilanya.

Salah satu momen paling gelap dalam sejarah industri adalah terbentuknya Phoebus Cartel pada tahun 1924.

Kartel rahasia ini berisi para produsen lampu pijar raksasa dunia seperti Philips dan General Electric.

Mereka secara sengaja sepakat untuk membatasi umur lampu pijar yang tadinya bisa nyala sampai 2.500 jam menjadi cuma 1.000 jam saja.

Mereka bahkan mendenda anggota yang bikin lampu terlalu awet. Logikanya sederhana yaitu kalau lampu nggak pernah putus, mereka nggak jualan lagi dong. 

Inilah awal mula di mana keawetan sebuah produk dianggap sebagai musuh bagi pertumbuhan bisnis.

Taktik Industri Otomotif yang Bikin Mobil Terasa Cepat Jadul

Selain lampu, dunia otomotif juga nggak mau kalah. Masih di tahun 1924, CEO General Motors yang bernama Alfred P. Sloan Jr. mengenalkan konsep yang namanya Dynamic Obsolescence.

Saat itu pasar mobil di Amerika lagi lesu banget karena mobil-mobil buatan mereka terlalu kuat dan tahan lama.

Biar orang mau beli mobil lagi, mereka mulai mengubah desain dan model mobil setiap tahun.

Tujuannya supaya orang yang punya mobil tahun lalu merasa mobilnya sudah nggak keren lagi dibandingkan model tahun ini.

Taktik ini sukses besar dan jadi standar baru di industri. Akibatnya, masa pakai rata-rata mobil di sana menurun drastis karena konsumen lebih mementingkan gengsi dan tren daripada fungsi dasar sebuah kendaraan.

Baca juga: Pentingnya Memahami Etika Bisnis Biar Perusahaan Gak Cuma Cuan tapi Tetap Berintegritas

Ilustrasi Planned Obsolescence.(Handout)

Seni Menanamkan Keinginan Memiliki yang Lebih Baru

Istilah keren ini kemudian dipopulerkan secara luas oleh seorang desainer industri bernama Brooks Stevens pada tahun 1954.

Dia menyebutnya sebagai seni untuk bikin konsumen merasa ingin punya sesuatu yang sedikit lebih baru, sedikit lebih baik, dan sedikit lebih cepat dari yang sebenarnya mereka butuhkan.

Ini bukan soal barangnya rusak secara fisik, tapi soal perasaan kita yang dimanipulasi lewat iklan dan desain.

Kita dibuat merasa ketinggalan zaman kalau nggak pakai produk versi terbaru. Inilah yang kemudian dikritik habis-habisan oleh para pengamat sosial sebagai cara industri menciptakan masyarakat yang boros dan nggak pernah merasa puas dengan apa yang sudah mereka miliki.

Dampak Buruk bagi Lingkungan dan Lautan Sampah Elektronik

Di balik kerennya gadget baru yang kita punya, ada harga mahal yang harus dibayar oleh alam.

Strategi ini bikin jumlah sampah elektronik alias e-waste meledak dengan sangat cepat. HP, laptop, dan barang elektronik lain yang dibuang mengandung bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan timbal.

Kalau nggak dikelola dengan bener, zat beracun ini bisa mencemari tanah dan air kita. Selain itu, proses produksi barang baru yang nggak henti-henti ini terus menguras sumber daya alam bumi dan meningkatkan emisi karbon yang bikin bumi makin panas.

Kita terjebak dalam budaya konsumsi yang nggak sehat dan sangat nggak ramah lingkungan hanya demi mengejar model terbaru.

Tekanan Finansial dan Rasa Frustrasi para Konsumen

Nggak cuma bumi yang menderita, kantong kita pun kena imbasnya. Kita harus terus-menerus mengeluarkan uang buat beli barang pengganti padahal barang lama mungkin masih bisa diperbaiki kalau saja suku cadangnya tersedia atau desainnya nggak dibikin ribet.

Bagi banyak orang, ini jadi beban finansial yang cukup berat. Muncul rasa frustrasi karena merasa investasi kita pada sebuah gadget nggak maksimal harganya.

Bayangkan beli HP mahal-mahal tapi dalam dua tahun sudah nggak dapet update sistem operasi atau aplikasinya mulai nggak support. Rasanya kayak dipaksa belanja terus tanpa henti.

Mengenal Berbagai Macam Modus Keusangan Terencana

Biar kamu makin waspada, ada beberapa cara industri mempraktikkan hal ini. Pertama ada keusangan fisik, di mana komponen di dalamnya memang sengaja dibikin gampang rusak.

Kedua ada keusangan psikologis, yaitu lewat tren dan desain yang terus berubah biar barang lama kelihatan kuno.

Ketiga ada keusangan teknologi, biasanya lewat software yang bikin hardware lama jadi berat.

Nah terakhir ada keusangan sistematik, di mana ekosistem produk diubah sehingga perangkat lama kamu sudah nggak bisa terhubung dengan aksesori atau layanan baru. Dengan tau modus-modus ini, kita bisa lebih bijak sebelum memutuskan buat beli barang baru.

Sikap Kritis dan Gerakan Hak untuk Memperbaiki

Melihat kenyataan ini, sekarang saatnya kita sebagai anak muda mulai ambil sikap. Kita harus jadi konsumen yang lebih sadar dan nggak gampang kemakan iklan.

Dukung gerakan Right to Repair atau hak untuk memperbaiki, di mana kita menuntut produsen buat menyediakan suku cadang dan tutorial perbaikan supaya barang kita bisa lebih awet.

Beberapa negara seperti Prancis bahkan sudah mulai bikin aturan tegas buat melarang praktik ini dan kasih sanksi buat perusahaan nakal.

Inovasi yang sebenarnya harusnya bikin hidup lebih mudah dan berkelanjutan, bukan malah bikin kita jadi budak konsumsi.

Baca juga: 17 Ide Nama Perusahaan Properti yang Elegan, Modern, dan Berkelas untuk Inspirasi Bisnis

Ilustrasi Planned Obsolescence. (Freepik)

Kita butuh pola pikir baru yang lebih bertanggung jawab terhadap barang yang kita miliki.

Alih-alih gonta-ganti gadget cuma karena beda warna atau beda satu fitur kecil, mendingan kita rawat barang yang ada sampai benar-benar nggak bisa dipakai lagi.

Dengan kolaborasi antara kita sebagai konsumen, pemerintah lewat regulasi, dan produsen yang lebih etis, kita bisa mengurangi tumpukan sampah di masa depan.

Yuk mulai kurangi sifat konsumtif dan lebih hargai apa yang kita punya demi bumi yang lebih hijau dan masa depan yang lebih baik!

Karena pada akhirnya, keren itu bukan soal punya barang terbaru, tapi soal seberapa peduli kita pada lingkungan sekitar.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber:

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU