INDOZONE.ID - Pemerintah menilai aktivitas mudik Idulfitri 2026 berpotensi besar menjadi penggerak utama perputaran ekonomi nasional. Skala pergerakan masyarakat yang masif, terjadwal, serta memiliki efek berganda (multiplier effect), membuat momentum ini mampu mendorong berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, mengatakan setiap pengeluaran pemudik memberikan dampak berlapis terhadap pelaku ekonomi, mulai dari UMKM, pedagang, hingga sektor jasa transportasi.
“Setiap pengeluaran pemudik menciptakan efek pengganda yang memberikan dampak berlapis bagi pelaku ekonomi, termasuk UMKM, pedagang, dan sektor jasa transportasi. Peningkatan aktivitas tersebut juga berkontribusi pada kenaikan pendapatan dari sektor perdagangan dan jasa,” ujarnya di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Ia menjelaskan, secara empiris mudik Lebaran telah menjadi instrumen yang konsisten dalam memperkuat ekonomi nasional. Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, aktivitas mudik berkontribusi sekitar 1,5 persen terhadap pertumbuhan ekonomi tahunan (yoy).
Kontribusi tersebut berasal dari redistribusi aliran uang dari pusat-pusat ekonomi ke berbagai daerah, sehingga memperluas dampak ekonomi dan meningkatkan peredaran uang secara lebih merata.
Baca juga: Kemnaker Tegaskan Mudik Bersama Bukan Beban, melainkan Dukungan bagi Pekerja
Selain itu, konsumsi rumah tangga selama periode Lebaran tercatat meningkat 15–20 persen dibandingkan bulan normal. Tingginya tingkat konsumsi masyarakat juga berdampak pada peningkatan pendapatan pelaku UMKM daerah yang bisa mencapai 50–70 persen.
Untuk Idulfitri 2026, pemerintah memproyeksikan aktivitas ekonomi akan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, pada 2025 pergerakan masyarakat mencapai 154,62 juta orang.
Optimisme ini didukung berbagai kebijakan stimulus, seperti alokasi fiskal lebih dari Rp12,8 triliun, penyaluran bantuan sosial Rp11,92 triliun kepada 5,04 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), serta diskon tarif transportasi sebesar Rp911,16 miliar.
Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga yang mencapai sekitar 53–54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kebijakan tersebut diyakini mampu memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang ditargetkan di kisaran 5,5–5,6 persen (yoy).
Pemerintah juga secara konsisten menghadirkan berbagai kebijakan pendukung setiap tahunnya, seperti diskon tiket transportasi, insentif fiskal, hingga penangguhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 6 persen untuk tiket pesawat pada Lebaran 2025 yang berhasil menurunkan harga hingga 14 persen.
Baca juga: THR ASN dan BHR Ojol Cair, Pemerintah Targetkan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Tembus 5,6 Persen
Selain itu, penurunan biaya kebandaraan dan harga avtur di 37 bandara, program Mudik Gratis, serta kebijakan Work From Anywhere (WFA) bagi ASN sejak 2022–2025, turut memperkuat dampak ekonomi dari momentum mudik.
Kebijakan WFA dinilai tidak hanya membantu mengurai kepadatan arus mudik, tetapi juga memperpanjang durasi tinggal pemudik di kampung halaman.
Dengan tetap bekerja dan menerima pendapatan, masyarakat memiliki waktu lebih panjang untuk beraktivitas dan berbelanja, sehingga meningkatkan perputaran uang di daerah.
“Meski ada tekanan global akibat konflik Iran dan Israel-AS, fundamental ekonomi kita tetap kuat. Selain itu, Pemerintah juga berkomitmen tidak menaikkan harga BBM saat ini, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga. Jadi untuk Idulfitri tahun ini diprediksi kita optimis ekonomi bisa lebih baik dari tahun sebelumnya,” kata Haryo.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA